Para penipu di dunia maya itu menggunakan skema phishing klasik dalam menjalankan aksinya. Pertama, mereka membuat salinan situs web resmi yang digunakan oleh provinsi North Rhine-Westphalia (NRW) untuk mendistribusikan bantuan virus corona ke bisnis dan wiraswasta.
Kemudian, mereka meluncurkan kampanye email untuk memikat pengguna ke situs web palsu dan mencuri kredensial mereka. Akhirnya, scammers meminta bantuan keuangan atas nama orang-orang tersebut sambil menggunakan rekening bank mereka sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan insiden itu, polisi menerima 576 laporan penipuan resmi dengan pembayaran bervariasi dari €9 ribu hingga €25 ribu. Jumlah itu membuat pemerintah Jerman mungkin telah kehilangan antara €31 hingga €100 juta (sekitar US$34 hingga US$109 juta).
Pasca kejadian itu, pemerintah Jerman telah memasang fitur verifikasi ID pelamar pada situs web pendanaan virus corona-nya dan hanya akan memenuhi permintaan pendanaan jika jika rekening bank pemohon sudah tercatat.
Melansir Euronews, National Fraud and Cyber Security Centre (NFCS) menyatakan scammers telah mengambil keuntungan dari pandemi Covid-19.
Contohnya, polisi keamanan dunia maya Inggris mengatakan bahwa klaim penipuan terkait virus korona telah melonjak sebesar 400 persen dengan kerugian mencapai lebih dari €1 juta sepanjang bulan Maret 2020.
Mayoritas laporan terkait dengan pesanan peralatan, dari masker wajah, hingga pembersih tangan yang tidak pernah tiba.
NFCS juga memperingatkan penipu itu bisa mencuri data pribadi, log in email, atau detail perbankan lewat email phising bertema virus coronan baru yang meminta seseorang mengklik tautan.
Penipu bahkan telah terlihat meniru kelompok-kelompok seperti Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) atau Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dengan tautan yang mengarahkan kembali ke halaman tempat data dicuri.