e-Commerce Diminta Susun Rencana Usai Pandemi Corona Selesai

CNN Indonesia | Rabu, 29/04/2020 00:12 WIB
Designers drawing website ux app development. User experience concept. Ilustrasi e-commerce. (Istockphoto/scyther5)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi e-commerce Indonesia (idEA) mengingatkan kepada pelaku e-commerce untuk mulai menyusun rencana bisnis setelah pandemi virus corona SARS-Cov-2 selesai.

Sebab, selama pandemi ini banyak masyarakat yang berlomba-lomba memanfaatkan platform e-commerce untuk membeli barang atau kebutuhan pokok terkait Covid-19.

"Untuk bisa mendapatkan sesuatu setelah masa (pandemi virus corona baru) ini, kita harus ada rencana. Kalau tidak dibangun, tidak akan jadi apa-apa," kata Ketua Umum idEA, Ignatius Untung saat acara Surviving The Covid-19, Preparing The Post secara virtual, Selasa (28/4).


Menurut Ignatius, pelaku e-commerce mesti memikirkan apakah produk-produk yang berkaitan dengan kesehatan misal masker, apakah masih terus dicari setelah pandemi atau tidak.

Lalu dengan banyaknya kampanye yang dicanangkan, e-commerce juga perlu mencermati apakah usaha mereka itu dapat memberikan kesan yang baik bagi masyarakat atau tidak.

"Kita lupa bahwa kita memasarkan service dan produk ke orang, orang itu punya rasa empati. Jadi, kalau empati-nya tidak ada, tidak semua brand (merek) dipakai dengan sepenuh hati," jelas Ignatius.

"Hati-hati juga saat mengklasifikasi apakah produk kita pada periode ini masih dipakai, mungkin memang ini sesuatu yang menarik atau karena tidak ada pilihan," sambungnya.

Manfaatkan Pandemi Corona

idEA kemudian mengungkapkan sejumlah strategi para perusahaan e-commerce Tanah Air demi meraup keuntungan selama masa pandemi virus corona. Menurut Ketua Umum idEA Ignatius Untung, salah satu strategi e-commerce ialah mereka mengambil peran service solution.

Maksudnya, banyak dari mereka yang menjamin bahwa barang yang mereka kirim dari platform mereka aman. Contoh lain dari service solution adalah mereka mengkampanyekan bahwa e-wallet (dompet digital) solusi ketika berada di rumah dan membeli barang, tidak usah menggunakan uang tunai.

"Mereka berkomitmen bahwa barang yang dikirim itu aman. Banyak juga surat (email) yang mengatasnamakan a letter from CEO (surat dari CEO) mulai membanjiri, lalu e-wallet juga jadi solusi ketika orang hendak berbelanja secara online," kata dia.

Menurut Ignatius, strategi e-commerce tersebut hanya bersifat jangka pendek. Artinya, strategi ini hanya dilakukan saat pandemi virus corona baru berlangsung.

"Kita berusaha bertahan dan cepat ambil keuntungan, saat kita keluar dari masa ini, kita punya sesuatu yang bisa jadi modal sebab kita hidup dari series of fund raising (serangkaian penggalangan dana)," jelasnya.

Sebelumnya, dua perusahaan rintisan e-commerce besar di Indonesia yaitu Shopee dan Bukalapak mengungkapkan peningkatan transaksi selama pandemi virus corona baru.

Menurut data internal Shopee, selama kebijakan bekerja, belajar, dan berdiam diri rumah untuk mencegah penyebaran Covid-19 tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.

Namun, Public Relations Lead Shopee, Aditya Maulana Noverdi mengatakan transaksi dan jumlah kunjungan pengguna tetap tinggi.

"Adanya peningkatan terhadap pencarian barang-barang kebutuhan esensial di kategori kesehatan dan barang-barang kebutuhan sehari-hari," kata Aditya.

Senada dengan Shopee, menurut data internal Bukalapak, saat ini produk yang paling laris dicari masyarakat di dalam platformnya ialah produk-produk kesehatan yang dapat menunjang pencegahan dini virus corona Covid-19. Namun, lagi-lagi Bukalapak tidak memberikan angka pasti.

"Sebelumnya barang-barang elektronik dan rumah tangga merupakan produk-produk yang paling dicari. Namun kami juga mencatat kenaikan para produk kesehatan dan alat penunjang kesehatan, bahan pokok, serta alat pendukung bekerja dari rumah," kata Head of Corporate Communications Bukalapak, Intan Wibisiono.

Sebelumnya, data penjualan bahan-bahan pokok atau sembako di toko online disebut meningkat 400 persen sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan pada 31 Maret.

Pola belanja sembako untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat kala pemerintah memutuskan untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beralih toko ke online menekan penyebaran wabah virus corona SARS-CoV-2.

Aturan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 membatasi masyarakat ke luar rumah. Alhasil, masyarakat berbondong-bondong menggunakan aplikasi e-commerce yang membeli produk kebutuhan sehari-hari, mulai dari kebutuhan bumbu dapur, sayur, dan sembako lainnya.

Telunjuk.com mencatat transaksi pembelian sembako di Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak mencapai 670.755 transaksi.

Semenjak pengumuman Presiden Jokowi mengenai pasien positif corona pertama di Indonesia (02/03), total estimasi penjualan pada minggu tersebut mencapai Rp392 Juta. Sedangkan pasca pengumuman PSBB kemarin (31/03) total estimasi penjualan pada minggu tersebut adalah sebesar Rp4,1 miliar, atau terjadi peningkatan dari Rp392 juta.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]