Roket China yang naas itu adalah Chinese Long March 5B (CZ-5B). Roket ini berhasil diluncurkan dari Bumi pada 5 Mei lalu. Roket pun sempat menghabiskan beberapa hari di orbit untuk menyelesaikan misi. Selesai dengan misi mengorbit, roket kembali masuk ke atmosfer dan jatuh ke Bumi.
Namun, yang menjadi perhatian para peneliti adalah pecahan roket yang jatuh begitu besar dan turun tanpa kendali. Sehingga mereka sulit memprediksi dimana pecahan raksasa itu akan mendarat. Beruntung, pecahan itu mendarat di Samudera Atlantik dekat lepas pantai di barat Afrika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara OV-102 adalah pesawat shuttle Columbia yang kembali masuk ke atmosfer pada 2003. Awalnya jatuh puing pesawat ini terkendali, hingga akhirnya tak terkendali ketika sudah berada di atas langit Texas.
Puing-puing ini kadang terjadi terkendali, sebagian terkendali, tapi lebih sering jatuh tak terkendali.
Untungnya, puing raksasa dengan panjang 30 meter itu tidak terbakar saat masuk atmosfer. Sehingga puingnya tidak menimpa daerah pemukiman, seperti ditulis Science Alert.
Pada Juli 2019, stasiun luar angkasa China Tiangong-2 juga jatuh dalam gerakan terkendali. Stasiun luar angkasa ini jatuh dengan kendali jarak jauh menggunakan sisa bahan bakar yang ia miliki. Stasiun ini jatuh di daratan yang sudah ditentukan sebelumnya, sedikit jauh dari laut.
Sebelumnya pada 2018, stasiun luar angkasa China, Tiangong-1 seberat 9,3 ton juga jatuh tak terkendali. Beruntung stasiun luar angkasa itu jatuh ke Samudra Pasifik, seperti ditulis Live Science.
Meski lepas orbit dari roket CZ-5B tidak terkendali, tapi bukan berarti pendaratan ini tidak direncanakan. Sepanjang sejarah, peluncuran luar angkasa mesti membuat sampah dari sebagian besar badan pesawat kembali ke Bumi sebagai puing-puing. (eks/eks)