Peneliti Ungkap Alasan Air di Mars Terus Berkurang

eks, CNN Indonesia | Senin, 13/05/2019 14:16 WIB
Peneliti Ungkap Alasan Air di Mars Terus Berkurang Ilustrasi (REUTERS/NASA/JPL-Caltech/Univ. of Arizona/Handout)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jutaan tahun lalu, Mars memiliki lautan dan sungai di permukaannya. Namun seiring waktu, air ini hilang hingga hanya tersisa sejumlah kecil air beku di permukaan dan sejumlah kecil uap air ada di atmosfer. Diperkirakan 80 persen air di Mars telah menghilang.

Peneliti dari Moskow lantas membuat simulasi siklus air di planet merah itu yang membuat lautan Mars perlahan menghilang. Perbedaan siklus air di Mars dan Bumi ini memegang perangan penting mengapa air di Mars semakin habis, sementra di Bumi tidak.

Awal dari siklus air di Mars terjadi tiap dua tahun sekali waktu Bumi. Ini terjadi saat musim panas di selatan Mars. Air ini menguap dan terangkat ke atmosfer. Angin lantas membawanya ke kutub utara Mars. Di kutub, sebagian dari air ini terbagi akibat rediasi iltraviolet matahari menjadi hidrogen dan hidroksil radikal. Hidrogen ini dilepas ke ruang angkasa. Sisa airnya turun ke bagian bawah atmosfer dekat dengan kutub.


Hidrogen yang lepas ke ruang angkasa inilah yang menjelaskan mengapa jumlah air di Mars terus berkurang. Namun, bagaimana mungkin hidrogen itu terlepas ke ruang angkasa? Para peneliti menjelaskan bahwa bagian toposfer yang sangat dingin di planet Mars kerap "terbuka". Ia terbuka setidaknya dua kali dalam sehari, di lokasi tertentu, dan di waktu tertentu dalam setahun.

"Ketika musim panas terjadi di bagian selatan (Mars), pada waktu tertentu air menguap bisa naik secara lokal dengan massa udara panas dan mencapai bagian atas atmosfer," jelas Paul Hartogh dari Max Planck Institute untuk penelitian tata surya. "Itulah mengapa atmosfer Mars lebih cepat mudah ditembus uap air ketimbang (atmosfer) Bumi," seperti dikutip Digital Trend.

Keunikan Mars siklus air di mars ini diperkuat dengan bukti badai debu besar yang terjadi di seluruh planet. Badai ini berulang kali menimpa Mars dengan interval beberapa tahun sekali. Badai besar itu terjadi pada 2018 dan 2007 serta berhasil didokumentasikan oleh wahana antariksa yang mengorbit Mars.

"Jumlah debu yang berputar-putar di atmosfer selama badai semacam itu memfasilitasi pengangkutan uap air ke lapisan udara yang tinggi," kata Alexander Medvedev dari MPS.

Para peneliti menghitung bahwa selama badai debu tahun 2007, uap air dua kali lebih banyak menembus atmosfer bagian atas dibandingkan pada musim panas tanpa badai. Karena partikel debu menyerap sinar matahari dan memanas, badai ini membuat suhu di seluruh atmosfer naik hingga 30 derajat dan menyumbang menguapnya hidrogen ke luar angkasa.

"Rupanya, atmosfer Mars lebih permeabel terhadap uap air daripada di Bumi," Hartogh menyimpulkan. "Siklus air musiman baru yang telah ditemukan berkontribusi besar-besaran terhadap hilangnya air Mars yang berkelanjutan," seperti dikutip Phys. (eks)