Peneliti Kembangkan Tes Antibodi Baru Deteksi Covid-19

CNN Indonesia | Sabtu, 16/05/2020 04:09 WIB
Petugas medis mengamati sampel darah dari pekerja yang mengikuti rapid test atau pemeriksaan cepat COVID-19 di Aula Serba Guna Kementerian Tenaga Kerja, Jakarta, Jumat (1/5/2020). Kemnaker melakukan rapid test COVID-19 terhadap 1000 pekerja dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional sebagai bentuk kepedulian pemerintah saat pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/pras. Ilustrasi. Peneliti kembangkan cara baru pengetesan antibodi lewat darah untuk deteksi infeksi Covid-19 (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gabungan peneliti dari Australia, Perancis, dan Jepang tengah mengembangkan cara baru deteksi Covid-19 dengan mengecek antibodi pada darah seseorang apakah pernah terjangkit Covid-19 akibat infeksi virus corona atau tidak.

Bedanya, tes darah yang tengah dikembangkan ini tidak hanya bisa melihat apakah seseorang pernah terinfeksi virus tertentu. Tapi, bisa melihat kapan dan sudah berapa lama ia terinfeksi.

Sebelumnya, pengecekan dengan sampel darah ini dikenal sebagai tes cepat PCR. Tes ini digunakan untuk mengecek antibodi seseorang. Apakah antibodi pasien telah menunjukkan pernah "memerangi" Covid-19 atau tidak.


"Untuk mengetahui apakah seseorang memiliki antibodi terhadap agen infeksi, banyak tes (uji antibodi) untuk kekebalan (hanya) memberikan jawaban sederhana, 'ya atau tidak'. Sebaliknya, tes kami yang awalnya dikembangkan untuk melihat infeksi malaria dapat menunjukkan dengan tepat berapa lama seseorang terpapar infeksi," jelas Pimpinan penelitian, Ivo Mueller.

Awalnya, tes ini dikembangkan untuk mengetes malaria. Namun, sekarang mereka mencoba mengembangkan tes ini untuk mengidentifikasi infeksi Covid-19. Untuk membantu identifikasi Covid-19, para peneliti mengembangkan cara pengetesan yang lebih rinci dari sebelumnya.

Dengan pengetesan ini, diharapkan bisa membantu pemerintah untuk mengawasi penularan penyakit menular di masyarakat. Ini terkait dengan tindakan preventif jika tiba-tiba terjadi lonjakan penularan Covid-19 di suatu wilayah.

Hal ini terkait dengan permintaan dari berbagai pihak agar pemerintah di berbagai negara melakukan tes Covid-19 massal secara berkala. Tujuannya, agar bisa memetakan dan mengambil tindakan karantina wilayah untuk mencegah penularan virus corona gelombang dua yang lebih luas.

Mueller berkata informasi sebuah kasus sangat berharga untuk melacak penyebaran infeksi dalam suatu populasi, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah yang mungkin tidak mampu memantau penyebaran infeksi sebenarnya.

"Tetapi sangat membantu untuk melihat secara retrospektif apakah infeksi telah terjadi. menyebarkan dan untuk memantau efektivitas program pengendalian infeksi, dan menanggapi kebangkitan penyakit," katanya.

Tes ini disebut menawarkan peluang baru untuk meningkatkan strategi pengendalian dan eliminasi infeksi, khususnya di negara-negara berpenghasilan rendah.

Mueller menyebut uji antibodi pada darah kerap digunakan untuk mengecek infeksi virus, parasit, atau bakteri. Sebab, infeksi itu memicu respons imun yang membentuk antibodi yang bersirkulasi dalam darah. Antibodi itu kemudian dapat bertahan selama bertahun-tahun. Tapi, seiring waktu jumlah berbagai jenis antibodi berubah.

Melansir Science Daily, Teknik diagnostik baru memungkinkan para peneliti untuk melihat secara terperinci jumlah antibodi yang berbeda dalam darah, untuk menentukan apakah dan kapan seseorang telah terkena infeksi tertentu. 

Melansir Technology Networks, Mueller mengatakan bahwa timnya di Melbourne dan Prancis saat ini sedang menerapkan sistem itu untuk mendeteksi kekebalan terhadap virus corona yang menyebabkan Covid-19. 

Dalam enam bulan ke depan, dia berharap telah menemukan bagaimana antibodi berubah dari waktu ke waktu agat dapat digunakan untuk mengeksplorasi kekebalan dalam kelompok yang lebih luas di masyarakat.

Petugas kesehatan melakukan tes cepat (rapid test) COVID-19 kepada warga yang mengikuti kegiatan keagamaan beberapa waktu lalu di Gowa, Sulawesi Selatan di Sport Centre Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Jumat (10/4/2020). Pemerintah setempat melakukan rapid test kepada 60 warga usai pasien pertama dinyatakan positif COVID-19 setelah kembali dari kegiatan tersebut. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/pras.Petugas kesehatan melakukan tes cepat (rapid test) COVID-19 kepada warga yang mengikuti kegiatan keagamaan beberapa waktu lalu di Gowa, Sulawesi Selatan di Sport Centre Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Jumat (10/4/2020). Pemerintah setempat melakukan rapid test kepada 60 warga usai pasien pertama dinyatakan positif COVID-19 setelah kembali dari kegiatan tersebut. ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/pras.
"Kami sudah mulai mempelajari darah orang yang memiliki infeksi COVID-19 untuk mendokumentasikan jenis antibodi yang mereka bawa," ujar Mueller.

Mueller menegaskan alat yang dibuatnya untuk memantau penyebaran penyakit Covid-19 dalam populasi. Dia menilai Covid-19 di negara Asia-Pasifik, Afrika, atau Amerika Latin memiliki kemungkinan akan menyebar tidak terdeteksi, terutama ketika pemerintah berusaha melonggarkan pembatasan penutupan.

"Tes ini bisa sangat berharga untuk menginformasikan keputusan itu," ujarnya.

Mueller berkata pengembangan lebih lanjut dari tes darah malaria akan segera dilanjutkan dengan dana dari Hibah Pembangunan NHMRC Pemerintah Australia.

"Kami berencana untuk melanjutkan uji klinis menyelidiki bagaimana tes kami dapat memandu upaya eliminasi malaria dan memiliki tes lapangan cepat akan menjadi aspek penting dari ini," ujarnya.

Peneliti Institut Walter dan Eliza Hall mengatakan tes darah malaria telah divalidasi menggunakan sampel yang disumbangkan oleh orang yang tinggal di daerah endemis malaria di Brazil, Thailand, dan Kepulauan Solomon.

"Investigasi kami mengkonfirmasi bahwa tes tersebut dapat mendeteksi orang yang telah terinfeksi P. vivax dalam sembilan bulan sebelumnya dan yang dengan demikian akan berisiko mengalami infeksi malaria berulang," ujar peneliti Institut Walter dan Eliza Hall, Rhea Longley.

Longley berkata informasi tersebut akan memungkinkan pengawasan yang lebih baik dan penyebaran sumber daya ke daerah-daerah di mana malaria masih ada.

"Dan pengobatan yang ditargetkan untuk orang yang terinfeksi. Ini bisa menjadi peningkatan besar dalam bagaimana vivax malaria dikendalikan dan akhirnya dihilangkan," ujarnya. (jps/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK