Penelitian ini dilakukan dalam ruangan tertutup dan memvisualisasikan droplet dari seseorang yang bicara keras tetap berada di udara dengan konstanta waktu antara delapan hingga maksimal 14 menit.
Melansir Science Times, Kamis (14/5) para peneliti menggunakan selembar sinar laser yang intens untuk memvisualisasikan tetesan yang dihasilkan dari sesi bicara yang diulangi oleh para peserta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut para peneliti, visualisasi langsung menunjukkan bagaimana ucapan normal menghasilkan tetesan di udara yang dapat tetap bertahan selama beberapa menit di udara sangat mampu menularkan penyakit di ruang terbatas.
Melansir Technology Review, peneliti memperkirakan bahwa satu menit bicara keras menghasilkan setidaknya 1.000 tetesan yang mengandung virus dalam penelitian sebelumnya tentang berapa banyak RNA virus yang dapat ditemukan dalam cairan oral pada rata-rata pasien Covid-19.
Adapun keterbatasan, hipotesis penelitian itu mengasumsikan bahwa setiap virion memiliki peluang yang sama, tidak nol dalam menyebabkan infeksi, yang jauh dari pasti untuk Covid-19.
Implikasi paling signifikan dari penelitian itu adalah untuk memperkuat pemakaian masker dalam keadaan apa pun, terutama ketika meninggalkan rumah untuk menghindari agenda yang kemungkinan terjadi penularan.
Masker wajah harus dipasang dengan sempurna ke wajah untuk perlindungan lengkap dari kuman dan kontaminan lainnya. Jika masker pada wajah longgar tidak akan memberi perlindungan. (mik/mik)