"GSM atau fenomena yang sekarang dinamai 'matahari lockdown' yang diprediksikan beberapa pihak dapat berlangsung dalam beberapa dekade ke depan, mulai 2020 ini sering disalah interpretasikan oleh banyak orang akan membuat suhu bumi mendingin lagi, bahkan 2 derajat Celcius lebih dingin," ujar Siswanto kepada CNNIndonesia.com, Selasa (19/5).
Siswanto menjelasakan GSM pada periode aktivitas matahari yang sangat rendah sekitar tahun 1650 hingga 1715 di belahan bumi utara terkombinasi dengan pendinginan suhu bumi efek dari aerosol akibat letusan besar banyak gunung api. Dia berkata letusan itu menghasilkan suhu permukaan bumi menjadi lebih rendah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika GSM dapat berlangsung, dia berkata para ilmuwan telah mengkalkulasi besarnya efek yang mungkin dapat ditimbulkannya.
Besaran itu, lanjutnya sebenarnya ekivalen dengan dampak pertumbuhan konsentrasi karbon dioksida (CO2) selama tiga tahun ini.
"Jadi, GSM yang diperkirakan bisa terjadi itu hanya berfungsi mengimbangi beberapa tahun pemanasan yang disebabkan oleh aktivitas manusia (perubahan iklim antropogenik)," ujarnya.
Di sisi lain, Siswanto menyampaikan pemanasan suhu global yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia adalah enam kali lebih besar daripada pendinginan selama beberapa dekade dari Grand Solar Minimum yang diprediksikan dapat terjadi tersebut.
Bahkan, dia berkata suhu global akan terus menghangat jika GSM bertahan satu abad.
"Karena lebih banyak faktor yang menjadikan tren pemanasan suhu global terus naik daripada hanya variasi luaran energi matahari 11 tahunan tersebut. Faktor yang paling dominan saat ini adalah pemanasan yang berasal dari emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia," ujar Siswanto.
Adapun terkait estimasi banyaknya bencana bersamaan dengan prediksi kehadiran GSM itu, Siswanto menuturkan sebenarnya bencana hidrometeorologi telah diketahui terbukti meningkat baik frekuensi maupun magnitude-nya linear dengan peningkatan suhu udara global tersebut.
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) juga menyimpulkan bahwa 3 dekade terakhir merupakan dekade dimana jumlah peristiwa cuaca dan iklim ekstrem terbanyak dan terus meningkat intensitasnya.