Ekspor Mobil Buatan Indonesia Belum Kendur Semasa Corona

CNN Indonesia | Rabu, 20/05/2020 15:29 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas dan kendaraan ekspor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa, 11 Februari 2019). Badan Pusat Statistik mencatat ekspor pada Januari 2019 turun 3,24 persen (month on month) dengan nilai USS 13,24 miliar. Sementara secara tahunan (year on year), ekspor pada Januari 2019 turun 4,7 persen dibandingkan Januari 2018. Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas dan kendaraan ekspor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa, 11 Februari 2019).(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekspor mobil completely built up (CBU) produksi Indonesia terekam anjlok 60 persen pada April menjadi 11.242 unit dari Maret 28.019 unit. Penurunan ini tidak separah penjualan mobil di dalam negeri sebesar 90 persen dan dikatakan berbagai pihak justru positif saat pandemi virus corona (Covid-19).

Saat pandemi sebagian besar negara tujuan ekspor mobil CBU dari Indonesia menerapkan pembatasan karena pandemi hingga membatasi distribusi.

Pabrik-pabrik mobil di Indonesia yang kebanyakan berada di Jawa Barat juga mengalami kendala sebab mesti ditutup sementara untuk pencegahan penyebaran wabah yang disertai kelangkaan suplai komponen.


Pada Februari ekspor sempat meningkat menjadi 30.386 unit, itu lebih tinggi dari rata-rata ekspor per bulan pada 2019 sebesar 27.600 unit. Lantas pada Maret, saat kasus pertama Covid-19 diumumkan pemerintah Indonesia, ekspor hanya turun sedikit dari Februari menjadi 28.019 unit.

Pada April, kendati ekspor turun menjadi 11.242 unit, pencapaian ekspor selama empat bulan tahun ini dinilai masih positif. Selama Januari-April total ekspor mencapai 88.557 unit, itu hanya turun 2,6 persen dari pencapaian periode sama pada 2019.

Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo, mengatakan, data itu cukup menggembirakan pasalnya penjualan di dalam negeri sedang tak sehat. Dia menyebut hasil itu antiklimaks karena pada tahun ini ekspor positif kendati negara menyerap dampak negatif cukup besar karena pandemi.

Prediksi Turun 50 Persen 

Meski begitu Nangoi mengatakan angka ekspor yang tercatat sebagian adalah pesanan negara yang sudah dilakukan dan wajib diselesaikan produsen di Indonesia. Atas penilaian itu Nangoi memproyeksikan ekspor secara keseluruhan akan turun 50 persen pada tahun ini dibanding 2019.

"Pada Desember [2019] kami di industri otomotif diminta menaikkan ekspor menjadi sebesar 1 juta unit pada 2025 dan kami berambisi tahun ini bisa 350 ribu - 400 ribu unit namun ternyata datanglah yang namanya Covid-19," ucap Nangoi.

"Sehingga tahun ini diprediksi kami hanya bisa mengekspor 175 ribu unit atau setinggi-tingginya sekitar 200 ribu unit," kata dia lagi.


Ada sembilan eksportir kendaraan CBU dari Indonesia, yaitu Toyota, Daihatsu, Suzuki, Hino, Honda, Mitsubishi, Hyundai, DFSK, dan SGMW Motor Indonesia. Pada 2019 total ekspor mencapai 332.023 unit, itu adalah rekor sepanjang sejarah industri otomotif Indonesia.

New Normal

Nangoi menyambut baik penetapan new normal yang kelihatannya bakal dijalankan pemerintah pada bulan-bulan ke depan. New normal sendiri adalah istilah untuk kondisi aktivitas masyarakat yang normal kembali meski wabah belum usai.

Aktivitas itu, seperti dikatakan Presiden Joko Widodo, dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Ya pasti sangat membantu karena kalau kita tidak produksi itu pasar kita lama-lama [pindah]. Misalnya Filipina order dari Indonesia tapi Indonesia belum produksi sementara mereka bisa enggak bisa menunggu, nanti dia ambil dari Thailand," kata Nangoi.

Menurut Nangoi kesiapan pabrik otomotif di dalam negeri beroperasi kembali juga menjadi kompetisi tersendiri di kawasan Asia Tenggara. Indonesia dan Thailand adalah dua negara dengan kapasitas produksi terbesar di kawasan itu.

Nangoi juga mengingatkan new normal menjadi lebih baik bila diterapkan menyeluruh. Pasalnya dia mengatakan pabrik otomotif butuh penyuplai komponen yang lokasi pabriknya tidak berada di satu provinsi.

"Masalahnya adalah bahwa industri otomotif butuh penyuplai yang cukup banyak. kami minta kalau new normal ya harus semuanya," ucap Nangoi.

Ekspor CBU 2019
Januari 22.195 unit
Februari 22.967 unit
Maret 25.485 unit
April 20.341 unit
Total 90.988 unit

Ekspor CBU 2020
Januari 18.910
Februari 30.386 unit
Maret 28.019 unit
April 11.242 unit
Total: 88.557 unit
Total ekspor 2019: 323.023 unit (ryh/fea)

[Gambas:Video CNN]