7 Inovasi Buatan Indonesia Lawan Covid-19

CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2020 11:02 WIB
Petugas medis mengambil sampel lendir dari seorang pedagang saat tes swab di Pasar Raya Padang, Sumatera Barat, Rabu (20/5/2020). Pemkot Padang melakukan tes swab terhadap pedagang dan orang-orang yang terkait di pasar itu dengan target 1.000 orang, untuk memutus penyebaran COVID-19 di klaster Pasar Raya tersebut. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc. Ilustrasi (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/foc.)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gugus Tugas (task force) Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC-19) yang dipimpin oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengumumkan tujuh produk karya Indonesia untuk mengatasi masalah pandemi penularan virus corona SARS-CoV-2 di Indonesia.

Ketujuh produk ini adalah Non-PCR diagnostic test/ Rapid Detection Test (RDT) Covid-19 (dalam bentuk dip stick dan micro-chip), PCR test kit, sistem informasi dan aplikasi kecerdasan buatan (AI), Whole Genome Sequencing (WGS) Covid-19 origin Indonesia, Emergency Ventilator, aplikasi Covid Track, hingga Mobile Lab BSL-2.

Produk-produk ini diciptakan dengan anggaran total Rp25 miliar. Dari total anggaran tersebut Rp15 miliar berasal dari dana APBN BPPT, Rp10 miliar lainnya berasal dari crowd funding dari Gerakan Indonesia Pasti Bisa yang dipelopori oleh East Venture.


1. Non-PCR diagnostic test/ Rapid Detection Test (RDT) Covid-19

Warga ikut rapid test sistem drive thru gratis di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 18 Mei 2020. Pemkot Bekasi menyediakan 50.000 alat rapid test dengan sistem drive thru secara gratis untuk masyarakat mulai 9 Mei hingga 31 Mei 2020. CNNIndonesia/Safir MakkiIlustrasi. Warga ikut rapid test sistem drive thru gratis di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 18 Mei 2020. Pemkot Bekasi menyediakan 50.000 alat rapid test dengan sistem drive thru secara gratis untuk masyarakat mulai 9 Mei hingga 31 Mei 2020. (CNNIndonesia/Safir Makki)
BPPT bersama dengan Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 yaitu UGM, Unair, Hepatika Mataram, Universitas Mataram, ITB, Unpad dan sejumlah pelaku industri melakukan pengembangan RDT Kit.

RDT Kit yang terdiri dari dua perangkat, yakni RDT Kit untuk deteksi antibodi IgG/IgM, dan RDT Kit untuk deteksi antigen micro-chip.

RDT antibodi IgG/IgM mampu mendeteksi secara cepat keberadaan virus Covid-19 dalam waktu 5-10 menit cukup dengan meneteskan darah atau serum pada alat RDT Kit IgG/IgM.

RDT Kit ini didesain menggunakan platform teknologi imunokromatografi yang berbasiskan virus lokal Indonesia, sehingga diharapkan lebih sensitif dan lebih spesifik untuk orang Indonesia dibandingkan produk impor.

Salah satu produk IgG/IgM yang dikembangkan merupakan hasil bersama antara BPPT, UGM, ITB, Unair, PT Hepatika /UNRAM.

RDT ini mempunyai manfaat untuk deteksi antibodi IgM dan IgG orang terpapar Covid19 baik digunakan untuk OTG, ODP, PDP, Post Infeksi dan gambaran Herd Immunity.

Alat ini mempunyai keunggulan praktis diaplikasikan, spesifik, tanpa alat, di mana saja, cepat paling lama 15 menit.

Pada tanggal 19 Mei 2020, telah didapatkan Nomor Ijin Edar (NIE) dari Kementerian Kesehatan RI dengan nomor AKD 20303020697. Pada minggu ke-2 Mei 2020 telah dilakukan uji validasi pada beberapa rumah sakit di Yogyakarta, Solo, Semarang dan Surabaya.

Pada bulan Mei ada sebanyak 10 ribu untuk validasi lapangan di RS di Yogyakarta, Semarang, Solo dan Surabaya. Bulan Juni sekitar 40 ribu alat tes terdistribusi ke rumah sakit.

Pada Juli sampai Agustus sekitar 100 ribu hingga 500 ribut alat tes siap diproduksi massal oleh PT Hepatika Mataram, BPPT dan industri lainnya.

BPPT, ITB, UNPAD, PT Pakar Biomedika Indonesia juga mengembangkan RDT untuk deteksi IgG/IgM berbasis protein S1 dan protein N. Yang akan dilakukan validasi pada akhir Juli dan akan diproduksi 10 ribu alat tes pada awal Agustus 2020.

Sementara itu perangkat RDT Kit micro- chip merupakan alat pendeteksi antigen yang mampu mendeteksi secara dini (early detection) keberadaan virus Covid-19 dengan menggunakan sensor Surface Plasmon Resonance (SPR).

Alat tes bisa dilakukan pada pasien dalam pengawasan (PDP), orang dalam pemantauan (ODP) dan orang tanpa gejala (OTG).
Satu micro-chip dapat mendeteksi sekaligus delapan sampel dari hasil swab.

Reagen biosensor yang dikembangkan lebih sederhana dibandingkan dengan teknik PCR. Setelah diuji validasi reagen biosensor menggunakan microchip SPR, akhir Juli 2020 produk reagen sejumlah 100 alat diserahkan ke rumah sakit.

Kemudian dilakukan evaluasi produk dari feedback RS akan diberikan di Agustus 2020.

2. PCR Test Kit
Calon penumpang commuterline menjalani tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 5 Mei 2020. Tes PCR untuk mencegah penyebaran mata rantai covid-19. CNNIndonesia/Safir MakkiIlustrasi. Calon penumpang commuterline menjalani tes Polymerase Chain Reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa, 5 Mei 2020. Tes PCR untuk mencegah penyebaran mata rantai covid-19. (CNNIndonesia/Safir Makki).

Alat test PCR yang dikembangkan bersama oleh BPPT, NUSANTICS dan PT Biofarma ini didesain dengan target gen deteksi SARS-CoV-2 sesuai dengan sekuens virus Indonesia. PCR test kit ini mempunyai sensitivitas tinggi (100 persen) terhadap SARS-CoV-2 dengan menggunakan sistem terbuka (open system) sehingga bisa digunakan di berbagai alat RTPCROpen system (bisa digunakan di berbagai alat RT-PCR.

TFRIC-19 juga telah melakukan distribusi untuk uji komparasi di 10 institusi di Mikrobiologi UI, RS Tangerang, RSND Semarang, RSPI, Litbangkes, Eijkman, Labkesda DKI, Labkes Prov Jabar, Kimia Farma, Bio Farma.

Proses produksi secara massal ini memanfaatkan fasilitas produksi PT Biofarma, termasuk untuk proses pengujian, pengemasan, dan distribusi.

Pengembangan ini sempat terkendala oleh ketersediaan alat reagen yang saat ini masih harus impor. Meski begitu pada akhir Mei 2020 akan rampung didistribusikan ke rumah sakit serta laboratorium yang menguji spesimen Covid-19.
AlatPCR ini telah berhasil diproduksi sebanyak 50 ribu unit. Rencananya, alattestPCR ini telah akan diproduksi sebanyak 100 ribu unit pada akhir Mei 2020.


3. Penggunaan AI untuk penanganan Covid-19

Teknologi AI untuk penanganan Covid-19, akan dilakukan TFRIC-19 melalui Sub-tim Artificial Intelligence. Prinsip kerjanya, berdasarkan data X-Ray dan CT-Scan dari pasien yang positif dan negatif Covid-19, akan dibangun model AI.

Selanjutnya dibuat software berbasis AI untuk mendeteksi Deteksi Covid-19 dari CT-scan & X-ray yang dapat digunakan untuk membantu pendeteksian dini pasien dengan validasi dari radiolog dan dokter. AI bisa digunakan untuk menjadi landasan pengambilan keputusan dan kebijakan oleh pejabat yang berwenang.

Keunggulan software ini yang dibangun adalah cepat, mudah, relatif murah, membantu radiolog dan dokter dalam memutuskan diagnosis Covid-19.

Insitusi yang terlibat diantaranya adalah ITB, BPPT, RSCM-UI, RS-Koja, Untag, Unesa, Politeknik Negeri Malang, Univ. Atmajaya, Unsyiah, Neurabot Lab, Riset.ai, Zi.care, dan IAIS.

Diharapkan sistem yang dikembangkan ini akan melengkapi atau bersifat komplemen terhadap pengujian berbasis PCR, maupun Whole Genome Sequencing (WGS) Covid-19 Indonesia.


Inovasi Buatan Anak Bangsa Lawan Covid-19

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2