RT-PCR Bio Farma, Kolaborasi Konsorsium Riset dan Inovasi

Bio Farma, CNN Indonesia | Kamis, 21/05/2020 20:40 WIB
Laboratorium Cell Cure Centre di RSPAD Gatot Subroto Jakarta Ilustrasi laboratorium. (Foto: Dok. Cell Cure Centre)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bio Farma sebagai induk holding BUMN Farmasi meluncurkan produk lifescience berupa Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo, pada Rabu (20/5).

Bertema Inovasi Indonesia untuk Melawan Covid-19, selain RT-PCR turut diluncurkan delapan produk yang merupakan hasil kolaborasi triplex helix antara pemerintah, industri, dan dunia pendidikan. Peluncuran ini sekaligus untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

RT-PCR sendiri adalah hasil Gerakan Indonesia Pasti Bisa dalam Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 (TFRIC19) sub Group task force Rapid Test Diagnosis berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) yang dimotori oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan, Kemenristek/BRIN ingin menjadi bagian penanganan Covid-19. Menurutnya, karena peran penting riset dan inovasi, pihaknya telah membentuk konsorsium beranggotakan Kementerian, lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan industri sejak awal Maret lalu.


"Saya berharap produk-produk riset dan inovasi yang hari ini diluncurkan dapat menandai kebangkitan inovasi Indonesia. Sebagai koordinator Riset dan Inovasi Nasional, Kemeristek/BRIN selalu mendorong berbagai lahirnya inovasi bangsa Indonesia yang memberikan dampak yang luas bagi masyarakat," ujar Bambang, seraya menambahkan, kegiatan ini berkaitan dengan empat aspek penelitian, yaitu pencegahan, screening dan diagnosis, pengembangan obat dan terapi, serta pengembangan alat kesehatan dan alat pendukung.

Direktur Pemasaran, Penelitian dan Pengembangan I Bio Farma Sri Harsi Teteki menjelaskan RT-PCR kit masuk dalam kategori screening dan diagnosis, yang berfungsi sebagai pendeteksi virus Sars Cov2 penyebab Covid-19. 
BiofarmaBiofarma sebagai induk holding BUMN Farmasi meluncurkan produk lifescience berupa Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) pada Rabu (20/5). (Foto: Biofarma)
"Bio Farma tergabung dalam Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Covid-19 sub Group task force Rapid Test Diagnosis berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) (TFRIC19) bersama Nusantics dan BPPT dan mendapatkan dukungan dari Gerakan Indonesia Pasti Bisa," katanya.

"Tugas dari Bio Farma adalah untuk melakukan validasi, yang juga melibatkan lembaga riset lain seperti Litbangkes, Lembaga Eijkman, Balitbangkes dan laboratorium, rumah sakit rujukan, registrasi, produksi dan juga distribusi. Produk ini merupakan hilirisasi dari penelitian yang merupakan hasil kolaborasi dan inovasi, dan pada tanggal 5 Mei 2020 sudah mendapatkan Nomor Izin Edar dari Kementerian Kesehatan,"

Dalam kesempatan itu, Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa saat ini dunia sedang adu cepat menangani Covid-19. Ia menyebut peluncuran RT-PCR sebagai momentum baru bagi kebangkitan bangsa, sains dan teknologi, terlebih dalam bidang kesehatan.
Untuk tahap awal, sampai akhir Mei 2020 RT-PCR diproduksi sebanyak 100 ribu kit. Sebagian akan didistribusikan pada 45 laboratorium di lokasi berbeda, sebelum dilakukan tahap komersialisasi.

16 laboratorium disebut sudah menerima donasi Bio Farma itu. Laboratorium dipilih berbasis rekomendasi BNPB dan Kementerian Kesehatan, berdasarkan peta epidemiologi dengan prinsip 3T, yakni tepat laboratorium, tepat jumlah, dan tepat waktu. Untuk itu, laboratorium harus memenuhi standar teknis, antara lain memiliki fasilitas Bio Safety Level (BSL) 2, PCR Open System, dan sudah pernah melakukan analisa sampel Covid-19.

RT-PCR memiliki tiga keunggulan. Satu, spesifiksitas hampir 100 persen untuk mendeteksi Covid-19, karena didesain oleh target gen sesuai sequence virus yang ada di Indonesia. Dua, memiliki open system sehingga bisa digunakan di mesin PCR manapun. Tiga, sudah menerapkan Good Distribution Process (GDP) sesuai rekomendasi WHO, termasuk penggunaan prinsip sistem rantai dingin dalam pengantaran suhu, seperti distribusi vaksin pada umumnya sehingga saat komersialisasi kelak harga yang ditawarkan akan lebih terjangkau. (rea)