TNI Bantah Dentuman Misterius dari Aktivitas Militer

CNN Indonesia | Sabtu, 23/05/2020 12:05 WIB
Suasana gladi bersih upacara parade dan defile HUT ke-74 TNI di Taxy Way Echo Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019. Peringatan HUT ke-74 TNI akan dilaksanakan di lokasi yang sama pada Sabtu, 5 Oktober 2019, dengan mengangkat tema Suasana gladi bersih upacara parade dan defile HUT ke-74 TNI di Taxy Way Echo Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis, 3 Oktober 2019. (CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- TNI menegaskan tak ada aktivitas militer selama masa pandemi Covid-19 yang bisa menyebabkan suara dentuman seperti didengar sebagian penduduk di Pulau Jawa semasa dua bulan terakhir.

Pernyataan itu disampaikan TNI untuk menanggapi asumsi Badan Meteorologi dan Klimatologi (BMKG) bahwa dentuman di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah yang masih misterius sampai saat ini tidak berasal dari sumber alami, melainkan tidak alami misalnya dari aktivitas manusia.


Asumsi menguat sebab tiga dentuman di lokasi berbeda dilaporkan terdengar periodik. Jakarta dan sekitarnya mendengar pada 11 April, lantas tepat satu bulan kemudian, 11 Mei, dentuman terdengar di Jawa Tengah.


"Tidak ada aktivitas militer, latihan militer, tidak ada kegiatan latihan, apalagi di Pulau Jawa. Semua personel membantu pemerintah menangani percepatan penanggulangan Covid-19. Semua energi ke sana," kata Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Sisriadi kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (23/5).

Sisriadi mengatakan pengerahan personel untuk percepatan penanganan Covid-19 sesuai arahan Presiden Joko Widodo. Ia mengatakan TNI juga masuk dalam Gugus Tugas Covid-19.

"Keputusan presiden semuanya untuk menangani Covid-19 dan TNI berada dalam gugus tugas. Kami menjaga Wisma Atlet dan Pulau Galang," kata Sisriadi.

Peneliti Petir dan Atmosfer BMKG Deni Septiadi sebelumnya menjelaskan ia berasumsi kuat suara dentuman terjadi akibat aktivitas manusia, bukan sumber alami.


Dia mengatakan sumber alami bisa berasal dari aktivitas seismik, vulkanik, petir, longsoran, hingga ledakan meteor di angkasa. Namun tidak ada data semasa pandemi yang menunjukkan aktivitas seperti itu bisa menimbulkan dentuman.

BMKG berasumsi dentuman berasal dari sumber tidak alami seperti aktivitas militer berupa tembakan atau suara pesawat.

"Yang jelas saya sampaikan dari dua sumber suara, non alami dan alami. Yang terjadi di ketiga dentuman itu sangat mungkin sekali terjadi akibat sumber suara non alami dari aktivitas manusia. Kalau [asumsi] saya cenderung mirip suara meriam," kata Deni saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (22/5).

Deni mengatakan apabila suara dentuman didengar baik-baik, suaranya seperti tembakan meriam yang beruntun. Sehingga ia mengatakan tidak mungkin apabila suara tersebut disebabkan secara alami. (jnp/fea)

[Gambas:Video CNN]