Penjelasan Hujan Turun setelah Cuaca Panas

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Rabu, 27/05/2020 19:10 WIB
Awan hitam menyelimuti kawasan Bundaran HI Jakarta, Selasa (9/2). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim hujan terjadi pada  pertengahan februari 2016. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/ama/16 Ilustrasi musim hujan. (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Cuaca panas terik dan tiba-tiba turun hujan merupakan fenomena yang kerap dihadapi. Fenomena ini cuaca ini hal biasa terjadi di wilayah tropis.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG Irsal Yuliandri menyatakan hujan bisa terjadi secara tiba-tiba saat cuaca panas atau saat masuk musim panas. Irsal mengatakan hal itu akibat penguapan yang cukup tinggi.

Menurutnya penguapan yang tinggi tersebut pada umumnya akan menimbulkan awan-awan dengan penyebaran tidak merata. Bahkan, dia mengatakan kondisi itu bisa disertai angin kencang dengan durasi singkat, namun tidak merata.


"Sebenarnya hujan yang sering terjadi di musim pancaroba dan kemarau itu lebih dikarenakan daya angkat atau penguapan cukup tinggi di pagi hingga siang hari," ujar Irsal kepada CNNIndonesia, Rabu (27/5).

Lebih lanjut, Irsal menyampaikan sebagian wilayah Indonesia sudah mulai memasuki fade kering dengan curah hujan rendah (
Daerah dalam kondisi itu meliputi wilayah pesisir Timur Aceh, pesisir Timur Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua bagian Selatan.

"Sementara potensi hujan dasarian dengan kategori tinggi (>150 mm) masih berpotensi terjadi di Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara bagian Utara, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua bagian Tengah," ujarnya.

Di sisi lain, dia mengatakan daerah konvergensi juga terpantau memanjang di Sumatera Barat hingga Samudra Hindia. Kondisi ini memberikan potensi hujan di sepanjang daerah konvergensi tersebut.

"Fenomena MJO yang berpropagasi ke arah Timur, secara spasial terdeteksi di wilayah Samudra Pasifik Utara Papua, Laut Arafuru dan Perairan Selatan Papua dan Teluk Carpentaria, yang dapat meningkatkan aktifitas konvektif di wilayah tersebut," ujar Irsal. (jps/mik)

[Gambas:Video CNN]