Karyawan Facebook Geram Zuckerberg Biarkan Postingan Trump

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Selasa, 02/06/2020 14:30 WIB
FILE- In this March 23, 2020 file photo, President Donald Trump talks during a briefing about the coronavirus in the James Brady Briefing Room, Monday, March 23, 2020, in Washington, as Attorney General William Barr looks on. Legislation to extend surveillance authorities that the FBI sees as vital in fighting terrorism was thrown in doubt Wednesday as President Donald Trump, the Justice Department and congressional Republicans all came out in opposition. (AP Photo/Alex Brandon) Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: AP/Alex Brandon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karyawan Facebook dikabarkan merencanakan 'virtual walkout' untuk merespons posting Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Tindakan itu merupakan bentuk kekesalan karyawan Facebook terkait keputusan Mark Zuckerberg untuk tidak mengambil tindakan terhadap posting Trump.

Sejumlah karyawan Facebook yang sebagian besar masih bekerja dari rumah memutuskan untuk mengambil cuti dan menyampaikan hendak keluar melakukan aksi mogok. Karyawan juga membuat sejumlah tuntutan terkait postingan itu.

Melansir Engadget, Selasa (2/6) aksi mogok karyawan Facebook terjadi beberapa hari setelah Zuckerberg mengumumkan bahwa posting Trump, yang juga terdapat di Twitter dianggap tidak melanggar standar Facebook.


Kebijakan itu berbeda dengan Twitter yang menyatakan bahwa postingan Trump bertentangan dengan kebijakan 'glorification of violence'.

Zuckerberg sebenarnya mengaku memiliki "reaksi negatif mendalam" terhadap pernyataan Trump. Namun pada akhirnya dia memilih untuk membiarkan postingan Trump.

Belakangan dilaporkan bahwa Zuckerberg telah berbicara dengan Trump di telepon sebelum mengumumkan keputusan tersebut.

Dua hari kemudian, Zuckerberg mengumumkan bahwa Facebook akan memberikan donasi US$10 juta kepada kelompok yang bekerja pada keadilan rasial. Namun langkah itu tampaknya tidak mempengaruhi keputusan karyawan untuk melakukan aksi.

"Kami menyadari rasa sakit yang dirasakan banyak orang saat ini, terutama komunitas kulit hitam. Kami mendorong karyawan untuk berbicara secara terbuka ketika mereka tidak setuju dengan kepemimpinan. Saat kami menghadapi keputusan sulit tambahan seputar konten di depan, kami akan terus mencari masukan jujur mereka," kata juru bicara Facebook dalam sebuah pernyataan.

Konflik antara karyawan Facebook dengan Zuckerberg bukan pertama kali terjadi. Pada musim gugur lalu, karyawan Facebook secara terbuka mengkritik keputusannya untuk mengizinkan politisi berbohong dalam iklan.

Saat ini, kontroversi terbaru yang muncul ketika karyawan Facebook bekerja dari rumah di tengah-tengah protes nasional tampaknya meningkat ke wilayah baru. Setidaknya dua karyawan senior Facebook telah mengancam untuk berhenti.

Melansir CNN, manajer di Facebook telah diberitahu oleh departemen sumber daya manusia perusahaan untuk tidak membalas staf yang berencana untuk memprotes kebijakan Zuckerberg.

Aksi mogok tersebut datang bersamaan dengan gelombang pertikaian publik yang jarang dari karyawan Facebook di Twitter. Jason Stirman, seorang manajer desain di Facebook mengaku tidak setuju dengan keputusan Zuckerberg untuk tidak melakukan apa-apa terhadap posting terbaru Trump.

"Saya tidak sendirian di dalam FB. Tidak ada posisi netral dalam rasisme," tulis Stirman dalam tweet.

Sejauh ini hanya sejumlah kecil karyawan Facebook yang berbicara tentang persoalan di Facebook dibandingkan dengan keseluruhan tenaga kerja yang jumlahnya sekitar 48.000.

Di sisi lain, mengambil tindakan terhadap postingan Trump berisiko membuat marah Gedung Putih dan kaum konservatif yang telah lama mengeluhkan dugaan bias pada platform, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mengasingkan beberapa talenta top Facebook.

Perintah Eksekutif pekan lalu mengenai media sosial mengklaim platform terlibat dalam bias politik.

Kritik dari karyawan hanya tumbuh ketika protes atas kematian George Floyd menyebar ke puluhan kota di seluruh negeri. (jps/mik)

[Gambas:Video CNN]