Sejumlah karyawan Facebook yang sebagian besar masih bekerja dari rumah memutuskan untuk mengambil cuti dan menyampaikan hendak keluar melakukan aksi mogok. Karyawan juga membuat sejumlah tuntutan terkait postingan itu.
Melansir Engadget, Selasa (2/6) aksi mogok karyawan Facebook terjadi beberapa hari setelah Zuckerberg mengumumkan bahwa posting Trump, yang juga terdapat di Twitter dianggap tidak melanggar standar Facebook.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dua hari kemudian, Zuckerberg mengumumkan bahwa Facebook akan memberikan donasi US$10 juta kepada kelompok yang bekerja pada keadilan rasial. Namun langkah itu tampaknya tidak mempengaruhi keputusan karyawan untuk melakukan aksi.
"Kami menyadari rasa sakit yang dirasakan banyak orang saat ini, terutama komunitas kulit hitam. Kami mendorong karyawan untuk berbicara secara terbuka ketika mereka tidak setuju dengan kepemimpinan. Saat kami menghadapi keputusan sulit tambahan seputar konten di depan, kami akan terus mencari masukan jujur mereka," kata juru bicara Facebook dalam sebuah pernyataan.
Saat ini, kontroversi terbaru yang muncul ketika karyawan Facebook bekerja dari rumah di tengah-tengah protes nasional tampaknya meningkat ke wilayah baru. Setidaknya dua karyawan senior Facebook telah mengancam untuk berhenti.
Melansir CNN, manajer di Facebook telah diberitahu oleh departemen sumber daya manusia perusahaan untuk tidak membalas staf yang berencana untuk memprotes kebijakan Zuckerberg.
"Saya tidak sendirian di dalam FB. Tidak ada posisi netral dalam rasisme," tulis Stirman dalam tweet.
Sejauh ini hanya sejumlah kecil karyawan Facebook yang berbicara tentang persoalan di Facebook dibandingkan dengan keseluruhan tenaga kerja yang jumlahnya sekitar 48.000.
Di sisi lain, mengambil tindakan terhadap postingan Trump berisiko membuat marah Gedung Putih dan kaum konservatif yang telah lama mengeluhkan dugaan bias pada platform, tetapi tidak melakukan apa pun untuk mengasingkan beberapa talenta top Facebook.
Perintah Eksekutif pekan lalu mengenai media sosial mengklaim platform terlibat dalam bias politik.
Kritik dari karyawan hanya tumbuh ketika protes atas kematian George Floyd menyebar ke puluhan kota di seluruh negeri. (jps/mik)