Pensiun, Pendiri Google Buat Badan Amal Pakai Teknologi Drone

CNN Indonesia | Selasa, 23/06/2020 05:03 WIB
Petugas menggunakan drone (pesawat tanpa awak) untuk menyemprotkan cairan disinfektan  di halaman Kantor Pusat BNI, Jakarta, Jumat (20/3/2020). Penyemprotan disinfektan tersebut menjadi salah satu rangkaian program prefentif PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) untuk menekan penyebaran virus Corona (COVID-19). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pd. Ilustrasi drone. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tahun 2019 lalu, ada dua pendiri Google yang memutuskan untuk pensiun yaitu Larry Page dan Sergey Brin. Salah satu dari mereka, Sergery Brin diketahui tengah fokus mengelola sebuah badan amal kebencanaan yang diberi nama Global Support and Development (GDS).

Jurnalis The Daily Beast, Mark Harris membeberkan kegiatan Brin bersama tim, salah satunya saat mereka mengerahkan bantuan alat-alat medis saat Badai Dorian menghantam Bahama, AS 2019 lalu.

Selain itu, GSD juga memberikan bantuan kepada tenaga medis yang merawat pasien virus corona Covid-19 (penyakit yang disebabkan oleh virus corona SARS-Cov-2), salah satunya memberikan bantuan makanan.


Selain itu, ia juga mendirikan pusat pengujian drive-thru di California dan sedang merampungkan alat pengujian itu untuk dikirimkan delapan negara bagian AS.

"Selama lima tahun terakhir, GSD telah diam-diam menggunakan sistem berteknologi tinggi untuk secara cepat memberikan bantuan kemanusiaan saat bencana tingkat tinggi, termasuk pandemi Covid-19," tulis Harris dikutip The Verge.

"Sistem berteknologi tinggi itu mulai dari pesawat tak berawak atau drone sampai kapal pesiar yang diharapkan akan membuatnya lebih mudah untuk memasukkan pasokan bantuan ke zona bencana," lanjutnya.

GSD terbentuk pertama kali tahun 2015 akibat Topan Pam yang menghantam Republik Vanuatu, sebuah negara kepulauan di Samudra Pasifik bagian selatan.

Kala itu Brin dan tim mengerahkan kapar pesiar yang dibeli seharga US$80 juta atau sekitar Rp11,4 miliar (US$1 = Rp14,252) dan mengangkut sejumlah tenaga medis serta beberapa kru GSD.

Lalu mereka mendarat di pulau-pulau kecil yang berada di bagian utara ibu kota Republik Vanuatu yakni Port Vila. Brin dan tim mesti merawat 250 pasien yang ditempatkan di tempat penampungan sementara.

Lebih lanjut, The Daily Beast juga membeberkan bahwa sekitar setengah dari orang yang bekerja untuk GSD memiliki latar belakang militer, seperti dikutip 9to5google.

"Dia menggunakan mantan personil militer untuk pekerjaan kemanusiaan menurut Profesor Politik dan Hubungan Internasional di Universitas Sheffield, Rosaleen Duffy," kata Harris.

"Sejak itu, GSD telah berkembang pesat. Sekarang memiliki sekitar 20 staf penuh waktu yang sebagian besar memiliki sertifikat pelatihan medis dan 100 kontraktor lainnya," pungkasnya.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK