LIPI Respons Potensi Virus Corona di Air Limbah Warga RI

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 07:45 WIB
PT Kahatex mengklaim limbah yang mereka buang ke sungai Cikijing sudah di bawah baku mutu yang ditetapkan Pemerintah. Mereka memiliki tujuh hektare instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) dan mengeluarkan hingga Rp10 miliar setiap bulannya untuk mengelola limbah. Ilustrasi air limbah mengandung Covid-19. (CNN Indonesia/Dhio Faiz)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan virus corona Covid-19 bisa terdeteksi dari air limbah warga. Pasalnya, air limbah yang mengandung feses hingga air liur dari orang yang terjangkit Covid-19.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik  LIPI, Agus Haryono mengatakan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 bisa ditemukan di air limbah, terlebih air limbah dari fasilitas medis Covid-19.

"Virus corona dapat tetap hidup di berbagai benda dalam waktu beberapa jam hingga beberapa hari. Termasuk pada air limbah. Apalagi air limbah dari fasilitas medis rujukan Covid-19," ujar Agus saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (24/6).


Agus mengatakan meskipun dalam kondisi tersebut, virus Covid-19 tidak dapat mereplikasi diri. Namun, Agus menyarankan sebaiknya ada proses sterilisasi atau pengolahan air limbah pada fasilitas medis.

"Jumlah virus pada permukaan benda tersebut semakin lama semakin berkurang. Karena virus SARS-Cov-2 tidak bisa mereplikasi diri nya atau tidak bisa berkembang biak, jika tidak berada pada inang yang hidup, seperti sel manusia," ujar Agus.

Dihubungi terpisah,  Ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Handoyo air limbah bisa berasal dari limbah dari buangan mandi, gosok gigi, cuci muka, cairan hidung, hingga feses.

"Kita ketahui bahwa virus keluar tubuh melalui rongga atas (mulut) dan rongga bawah (anus)," ujar Ahmad.

Sebelumnya, para  ilmuwan Italia menyatakan virus corona SARS-CoV-2 (Covid-19) telah ada di Italia sebelum kasus pertama terkonfirmasi. Para ilmuwan mengklaim bahwa temuan itu diketahui setelah menganalisa air limbah warga.

Air limbah dari dua kota utara Italia, yakni Milan dan Turin  mengandung jejak virus corona baru bulan Desember 2019. Temuan itu diperoleh setelah peneliti meneliti 40 sampel limbah yang dikumpulkan dari pabrik pengolahan air di Italia utara antara Oktober dan Februari.

Sementara itu, peneliti Jepang menemukan keberadaan virus corona (Covid-19) di pabrik air limbah.  Sekelompok peneliti menguji air dari empat pengolahan air limbah di prefektur Ishikawa dan Toyama, barat Jepang.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]