Penampakan Dampak Covid-19 di Bumi Kala Dipotret dari Satelit

CNN Indonesia | Selasa, 30/06/2020 06:50 WIB
Illustration rÈcente du satellite franÁais d'astronomie Corot, dont le lancement initialement prÈvu le 21 dÈcembre 2006 depuis le cosmodrome russe de BaÔkonour au Kazakhstan, a ÈtÈ reportÈ au 27 dÈcembre en raison d'un problËme technique sur le lanceur. LancÈ par une fusÈe Soyouz 2-1B, Corot ( Ilustrasi satelit. (AFP PHOTO / CNES)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satelit gabungan Badan Antariksa Amerika (NASA), Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA), dan Badan Antariksa Jepang (Japan Aerospace Exploration Agency/JAXA) menampilkan bagaimana pandemi virus corona Covid-19 telah mengubah ekonomi dan lingkungan.

Tiga badan antariksa itu mengumpulkan pengamatan satelit untuk disatukan di dalam sebuah dashboard khusus yang dapat diakses di kanal earth observing dashboard.

Dashboard yang diberi nama Observasi Bumi Covid-19 (The COVID-19 Earth Observation) memungkinkan masyarakat untuk menjelajahi bagaimana pandemi virus corona baru memengaruhi lalu lintas udara, lampu malam kota, dan produksi pertanian di seluruh dunia.


Dashboard ini juga berisi tentang kondisi gas rumah kaca selama pandemi, kualitas udara, dan kualitas air.

"Pandemi meninggalkan banyak penderitaan manusia dan memiliki dampak global yang kami dokumentasikan dari luar angkasa," kata Administrator Asosiasi Direktorat Misi Sains NASA, Thomas Zurbuchen dikutip The Verge.

"Kami menggabungkan tiga kekuatan badan antariksa dan bakal membawa seperangkat alat analitik yang lebih kuat untuk menghadapi krisis ini," tambah Zurbuchen.

Berdasarkan data dashboard, satelit JAXA ALOS-2 dan ESA Sentinel-1 mengamati kepadatan mobil yang diparkir di sebuah pabrik dekat Bandara Internasional Ibu Kota Beijing.

Grafik menunjukkan bagaimana kepadatan mobil yang diparkir di bandara itu semakin menurun sejak Desember 2019 sampai Februari 2020.

Lalu citra satelit menunjukkan jumlah mobil kembali meningkat pada bulan April saat pemerintah China memutuskan untuk mencabut kebijakan lockdown.

Sementara berdasarkan citra satelit NASA National Oceanic and Atmospheric Administration, data menunjukkan bagaimana cahaya lampu dari San Francisco Medical Center bersinar lebih terang dari biasanya dimulai dari bulan Januari sampai April 2020.

Sebelumnya NASA dan ESA telah merilis dokumentasi perubahan nitrogen dioksida yang mencemari udara di China akibat pandemi virus corona SARS-CoV-2 (Covid-19).

Data menunjukkan bahwa jumlah gas rumah kaca yang dilepaskan manusia ke atmosfer turun. Namun emisi karbon dioksida kembali normal saat China bebas dari lockdown.

Menurut Direktur ESA Earth Observation Programme, Josef Aschbacher pihaknya bakal terus memperbarui data citra satelit yang ada di dashboard mereka.

"Tim kami kelelahan sekarang, tetapi juga sangat bangga dengan pekerjaan kami yang dapat disajikan secara global," tuturnya.

(din/DAL)

[Gambas:Video CNN]