Ahli Jelaskan soal Hujan Berlian di Neptunus dan Uranus

CNN Indonesia | Selasa, 07/07/2020 09:26 WIB
hujan meteor perseid Ilustrasi (dok. NASA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para peneliti tengah menyusun pengujian untuk membuktikan hipotesa soal bagaimana hujan berlian terjadi di Neptunus dan Uranus.

Menurut analisa mereka, hal ini bisa terjadi akibat atmosfer Neptunus dan Uranus yang banyak mengandung hidrogen, helium, dan sedikit metana.

Sementara di bagian bawah lapisan atmosfer itu, terdapat cairan sangat panas yang dan bertekanan tinggi ribuan kilometer di bawah permukaan planet yang dipenuhi es ini.


Bagian inti planet yang sangat panas dan bertekanan tinggi itu telah memisahkan senyawa hidrokarbon. Senyawa karbon lantas mengeras menjadi berlian dan tenggelam ke dalam inti planet.

Lalu mereka melakukan eksperimen menggunakan laser X-ray Linac Coherent Light Source (LCLS) untuk mengukur bagaimana proses hujan berlian ini terjadi. Mereka juga berharap percobaan ini bisa menemukan bagiamana karbon bisa berubah menjadi kristal berlian.

"Penelitian ini memberikan data bagaimana fenomena itu terjadi, sebab sangat sulit untuk dibuat model lewat komputer," jelas fisikawan plasma Mike Dunne, Direktur LCLS yang tidak terdaftar sebagai penulis laporan itu seperti dikutip Science Alert

"(Lewat penelitian ini) kami ingin melihat bagaimana dua elemen itu terpisah, seperti melihat bagaimana mayonanaise kembali terpisah menjadi minyak dan cuka (bahan pembentuk mayonaisse)."

Sebelumnya penelitian terkait hujan berlian sudah dilakukan di SLAC dan dipimpin oleh fisikawan Dominik Kraus menggunakan difraksi sinar-X.

Lebih lanjut Kraus mengatakan ia dan tim pertama-tama memanaskan dan menekan bahan untuk mereplikasi kondisi di dalam Neptunus pada kedalaman sekitar 10.000 km.

Mereka menggunakan laser optik yang menghasilkan gelombang kejut di polystyrene. Material dipanaskan di suhu 4.727 derajat celsius.

Dalam eksperimen terbaru ini, peneliti mengukur bagaimana sinar-X tersebar karena elektron yang ada di polystyrene.

Pengukuran itu juga memungkinkan mereka untuk mengamati apa yang terjadi pada sisa sampel sehingga tidak ada karbon yang tersisa.

"Dalam kasus raksasa es sekarang, kita tahu bahwa karbon hampir secara eksklusif membentuk berlian ketika terpisah dan tidak mengambil bentuk transisi cairan," ujar Kraus.

"Sebagai contoh, kita akan dapat melihat bagaimana hidrogen dan helium, unsur-unsur yang ditemukan di interior raksasa gas seperti Jupiter dan Saturnus, bercampur dan terpisah di bawah kondisi ekstrem ini. Ini adalah cara baru untuk mempelajari sejarah evolusi planet," jelasnya.

Hasil eksperimental Kraus dan tim dapat diakses di jurnal Nature yang diberi judul, 'Demonstration of X-ray Thomson scattering as diagnostics for miscibility in warm dense matter'.

Neptunus dan Uranus adalah dua planet besar paling jauh di Tata Surya dan juga merupakan planet yang jarang dieksplorasi.

Tiga puluh tahun lalu, pesawat luar angkasa 'Voyager 2' menjadi satu-satunya misi luar angkasa yang telah mendekati Neptunus dan Uranus. Kedua planet ini memang dikenal sebagai 'raksasa es' seperti dikutip Science Times

(din/eks)

[Gambas:Video CNN]


BACA JUGA