Teleskop Hubble Deteksi Bintik Hitam di Planet Neptunus

Tim CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 29/03/2019 08:10 WIB
Teleskop Hubble Deteksi Bintik Hitam di Planet Neptunus Observasi pusaran air gelap di atmosfer Neptunus oleh teleskop Hubble. (Dok. hubblesite.org)
Jakarta, CNN Indonesia -- Teleskop Hubble menemukan formasi badai di planet Neptunus. Teleskop yang digunakan oleh ilmuwan untuk meneliti objek-objek antariksa yang jauh dari Bumi ini melihat badai Neptunus seperti bintik hitam raksasa.

Dilansir dari Science Alert, fenomena bintik hitam pada planet tersebut telah direkam oleh teleskop Hubble sejak 1993 dan merupakan kejadian keempat yang pernah direkam. Namun, ini adalah pertama kalinya para peneliti dapat menyaksikan secara langsung bagaimana bintik hitam ini terbentuk.

Bintik hitam yang telah terbentuk sejak September 2018 lalu berukuran sekitar 11 ribu kilometer. Pada awalnya, bintik hitam hanya berupa kumpulan awan putih.


Awan ini terbuat dari kristal es dan peneliti memperkirakan bahwa awan-awan ini mengelilingi badai yang menjadi bintik hitam, seperti halnya awan yang mengelilingi gunung.
Dalam riset baru yang dipublikasikan Surat Riset Geofisika, ilmuwan menjelaskan bagaimana mereka menemukan pertumbuhan 'Bintik Besar Neptunus'.

Penemuan ini berawal ketika tim sedang berfokus meneliti gugusan awan yang mulai terbentuk bertahun-tahun sebelum bintik hitam ini muncul. Hal ini mengindikasikan bahwa badai yang membentuk bintik hitam tersebut berada jauh di dalam atmosfir.

Pada awalnya, titik hitam tidak terlihat oleh teleskop Hubble yang hanya bisa melihat permukaan planet. Bintik hitam baru terlihat ketika badai sudah melebihi tinggi awan, hingga dapat terlihat dari luar angkasa.

"Kami terlalu sibuk melacak badai yang lebih kecil pada 2015, sehingga kami tidak sadar akan datang badai besar lain dengan cepat," ujar ilmuwan planet Sentral Penerbangan Antariksa Goddard, Amy Simon kepada ScienceAlert.
"Sangat mengejutkan, karena kami biasanya meneliti Bintik Merah Jupiter, yang mungkin telah terbentuk selama lebih dari seratus tahun," lanjut Simon.

Namun, berbeda dengan badai di Jupiter, badai di Neptunus akan hilang dalam kurun waktu dua hingga enam tahun, dan muncul kembali setiap empat hingga enam tahun. Badai yang terjadi di Neptunus ini memberikan Ilmuwan kesempatan untuk tidak hanya meneliti proses pembentukannya, melainkan juga bagaimana badai ini mati.

Sebagai planet yang paling jauh dari Matahari, Neptunus yang merupakan planet yang terbentuk dari gas metana dengan suhu yang sangat dingin. (lea/age)