NASA Sebut Bahan Tambang di Bulan Melimpah

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 05:41 WIB
Montase foto gerhana matahari saat bayangan bulan bergeser hingga hingga bayangan bulan terbuka semua dilihat dari Pantai Soagimalaha di Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara, Selasa (8/3). GMT di Maba berdurasi 3 menit 17 detik kegelapan. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/ama/16. Ilustrasi (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tim ilmuwan NASA menyatakan logam tambang di permukaan Bulan lebih melimpah dari yang diperkirakan sebelumnya.

Hal ini merupakan temuan para peneliti setelah mereka mendeteksi permukaan Bulan. Instrumen Mini-RF di pengorbit NASA menemukan bahwa semakin besar kawah yang ada di Bulan, semakin besar kemungkinan material tambang yang terkandung di dalamnya.

Hal ini terdeteksi dari transmisi medan listrik atau yang dikenal sebagai "konstanta dielektrik." Para ilmuwan menemukan hubungan langsung antara konstanta itu dan konsentrasi mineral logam.


Diperkirakan konstanta ini terkait dengan kandungan besi dan titanium oksida. Konstanta itu tidak berubah untuk kawah dengan lebar antara tiga dan 12 mil.

Alat Miniature Radio Frequency (Mini-RF) yang mendeteksi permukaan Bulan ini dilekatkan pada pesawat ruang angkasa Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) NASA.

Dalam penelitian yang diterbitkan di Earth and Planetary Science Letters, para ilmuwan berkata meteor mengeluarkan logam dari dalam saat mereka menghantam permukaan bulan, membentuk kawah dalam proses tersebut. Itu berarti akan ada logam dalam jumlah sangat besar yang tersimpan dalam Bulan.

Faktanya juga, semakin rendah kita menggali maka semakin banyak besi dan titanium oksida yang kita temukan.

"Bayangkan mengambil tumpukan logam lima kali lebih besar dari Pulau Besar Hawaii dan menguburnya di bawah tanah," kata Peter B. James, penulis makalah itu.

Dalam laman resmi NASA, para peneliti menggunakan Mini-RF dalam mengukur sifat listrik di dalam tanah bulan yang menumpuk di dasar kawah di belahan utara Bulan.

Sifat listrik itu dikenal sebagai konstanta dielektrik, angka yang membandingkan kemampuan relatif suatu material dan kekosongan ruang untuk mentransmisikan medan listrik, dan dapat membantu menemukan es yang bersembunyi di bayang-bayang kawah.

Untuk kawah yang lebarnya sekitar 1 hingga 3 mil (2 hingga 5 kilometer), konstanta dielektrik material terus meningkat ketika kawah tumbuh lebih besar. Namun, untuk kawah dengan lebar 3 hingga 12 mil (5 hingga 20 kilometer), sifatnya tetap konstan.

Perbandingan gambar Mini-RF dengan peta oksida logam dari LRO Wide-Angle Camera pesawat ruang angkasa Lunar Prospector NASA juga menemukan bagian bawah kawah Bulan kaya dengan logam, serta menunjukkan lebih banyak besi dan titanium oksida.

Penemuan itu diklaim mendorong peneliti untuk memikirkan kembali evolusi Bulan.

Teori yang dominan saat ini menjelaskan bahwa Bulan berasal dari tabrakan antara benda luar angkasa seukuran Mars dan Bumi. Akibat dari gravitasi, runtuhan dari tubrukan itu kemudian menggumpal membentuk Bulan.

Teori itu sering digunakan untuk menjelaskan mengapa komposisi Bulan sangat mirip dengan Bumi, seperti dikutip Futurism

"Hasil menarik dari Mini-RF ini menunjukkan bahwa bahkan setelah 11 tahun beroperasi di Bulan, kami masih membuat penemuan baru tentang sejarah kuno tetangga (bulan) terdekat kami," Noah Petro, ilmuwan proyek LRO di Goddard Space Flight Center NASA, yang tidak terlibat dalam penelitian.

"Data MINI-RF sangat berharga untuk memberi tahu kami tentang sifat-sifat permukaan bulan, tetapi kami menggunakan data itu untuk menyimpulkan apa yang terjadi lebih dari 4,5 miliar tahun yang lalu," Petro menambahkan.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]