Ahli Ungkap Faktor Klaster Baru Corona Secapa TNI AD Bandung

CNN Indonesia | Jumat, 10/07/2020 15:48 WIB
3d Render Bacterium closeup (depth of field) Ilustrasi virus corona. (iStockphoto/spawns)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Epidemiologi Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan penularan virus corona Covid-19 memang mudah terjadi di gedung perkantoran hingga gedung pendidikan dan pelatihan (diklat) yang bisa membentuk klaster Covid-19 baru.

Dicky menyatakan mudahnya penularan disebabkan oleh kualitas sirkulasi dan ventilasi udara. Kedua hal tersebut juga dibarengi dengan penularan melalui droplet mikro alias aerosol dan fomite (benda yang terkontaminasi organisme menular.

Hal ini diungkap Dicky setelah 200 siswa Sekolah Calon Perwira TNI Angkatan Darat (Secapa TNI AD) terkonfirmasi positif berdasarkan pemeriksaan Swab, sehingga membentuk klaster baru di Bandung.


"Kluster gedung atau perkantoran atau diklat memang bisa sering terjadi, terutama hal ini menyangkut kualitas sirkulasi dan ventilasi udara, selain faktor terjadinya penularan droplet aerosol dan fomite," ujar Dicky kepada CNNIndonesia.com, Jumat (10/7).

Lebih lanjut, Dicky menyarankan agar segera dilakukan evaluasi menyeluruh terkait fungsi dan keberadaan ventilasi dan sirkulasi udara pada semua sarana indoor atau dalam ruangan di lokasi pelatihan dan termasuk semua gedung perkantoran, baik pemerintah maupun swasta dan BUMN.

"Adanya potensi penularan Covid-19 melalui airborne aerosol menjadikan faktor sirkulasi dan ventilasi udara yang baik dalam ruangan menjadi sangat penting," kata Dicky.

Selain itu, Dicky menjelaskan institusi dan masyarakat harus mematuhi prinsip 3M dan 3R. 3M adalah mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. Sedangkan 3R adalah menghindari ruangan, menghindari rapat, dan menghindari ramai (keramaian).

Dicky juga menyarankan agar semua aktivitas pelatihan atau pendidikan diupayakan da kondisi outdoor atau dalam udara terbuka dengan memperhatikan pelaksanaan 3M  serta hindari 3R.

Dicky melanjutkan selain menerapkan prinsip 3M dan 3R, pengelola gedung juga melakukan desinfeksi secara rutin pada ruangan, kamar dan toilet.

Selain itu, yang paling utama harus dipatuhi semua institusi saat ini adalah membatasi karyawan atau pegawai yang memiliki risiko terinfeksi (memiliki penyakit gejala/ komorbiditas).

"Ini hal penting yang tidak boleh sama sekali diabaikan. Karena akan menyebabkan yang bersangkutan mudah terinfeksi juga menjadi penular," tutur Dicky.

Perhatikan kualitas ventilasi dan sirkulasi

Dicky mengatakan ventilasi adalah jendela atau celah udara yang membantu mengalirkan udara segar dari luar ke dalam rumah dan membuang udara kotor dan tercemar dari dalam ke luar rumah.

Pada perkantoran atau gedung hal ini sering menggunakan pendingin ruangan atau AC. Namun, Dicky mengingatkan yang harus diwaspadai adalah tidak semua AC memiliki fungsi sirkulasi.

"Sehingga bisa timbul kasus kluster seperti di restoran Wuhan China yang terjadi akibat sirkulasi udara ruangan tidak dibuang ke luar gedung," ujar Dicky.

Dicky menjelaskan  AC yang baik harusnya mempercepat sirkulasi udara dalam ruangan dengan cara menghisap udara di dalam ruang sekaligus dalam jumlah besar untuk dibuang ke luar. Pada saat yang bersamaan, mesin ini akan menarik udara segar dari luar dan memasoknya ke dalam ruangan.

"Sehingga keberadaan virus , atau patogen lainnya bisa terbuang ke luar," ujar Dicky.

Untuk mengetahui apakah tempat tinggal atau gedung kantor, Dicky membeberkan kriteria berikut harus diamati atau dievaluasi. Pertama adalah jumlah ventilasi harus sesuai dengan ukuran ruangan, setidaknya satu ruang ukuran 4 meter persegi punya satu ventilasi

Kedua, ruangan harus bebas dari bau. Ketiga setiap ruangan rapat atau ruang  makan hingga toilet punya ventilasi seperti jendela, AC, dan exhaust fan. Keempat adalah memastikan AC dan exhaust fan bekerja dengan baik untuk menjaga sirkulasi udara.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]