LIPI Ungkap Potensi Abrasi Tiga Pulau di Kepulauan Riau

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 07:17 WIB
Sepasang wisatawan duduk di pantai Sidem yang mengalami abrasi, Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (20/7). Meski berada di area Teluk Popoh, gelombang tinggi yang terjadi sejak dua hari terakhir telah menyebabkan kawasan pesisir pantai ini mengalami abrasi. ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko/foc/18. Ilustrasi abrasi (ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Wahyu Budi Setyawan menyatakan abrasi yang terjadi sejumlah pulau di Kepulauan Riau berpotensi disebabkan oleh faktor alam dan manusia.

Terkait faktor alam, abrasi yang terjadi di Kepri bisa terjadi akibat dua kemungkinan. Pertama, disebabkan oleh arus dari Selat Malaka atau dari arah Barat Laut yang datang setiap musim kemarau.

Sementara untuk faktor manusia, bisa dipicu oleh aktivitas di perairan, misalnya pengerukan pasir. Dia menyebut pengerukan pasir membuat dasar laut menjadi semakin dalam sehingga energi gelombang meningkat dan menciptakan lereng curam.


"Secara teoritis, banyak hal yang bisa menyebabkan abrasi," ujar Wahyu kepada CNNIndonesia.com, Senin (13/7).

Sebelumnya, Gubernur Riau Syamsuar menyebut tiga pulau terluar Kepri mengalami abrasi parah. Dia mengklaim abrasi disebabkan oleh gelombang dan arus laut yang besar dari Selat Malaka.

Syamsuar juga menyebut dampak dari abrasi itu mempengaruhi mundurnya garis pantai terluar Provinsi Riau. Selain itu, abrasi mempengaruhi Sumber Daya Alam pada Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE), mata pencaharian masyarakat, infrastruktur jalan, rumah masyarakat, fasilitas umum, dan fasilitas sosial di pulau tersebut.

Lebih lanjut, Wahyu menyebut lereng akibat penambangan pasir bisa menyebabkan longsor di dasar permukaan laur dan pada akhirnya menciptakan abrasi di pantai.

"Kemungkinan lain adalah aktivitas di darat, misalnya mangrovenya di buang atau karang diambil. Jadi untuk untuk mengetahui pasti, kita harus tahui kondisi pulau dan lingkungan di sana," ujarnya.

Wahyu menuturkan abrasi merupakan hasil interaksi antara kekuatan dari laut seperti gelombang arus atau pasang surut. Sedangkan interaksi yang terjadi di darat disebut dengan sedimentasi.

Lebih lanjut, Wahyu menyebut abrasi berdampak pada berkurangnya daratan sebuah wilayah. Sehingga, dia mengaku tidak heran jika abrasi menjadi persoalan sebuah daerah atau negara.

Sedangkan untuk ekosistem, dia berkata abrasi membuat pantai keruh dan mengganggu kehidupan terumbu karang. Dia juga menyebut abrasi berpotensi menghancurkan mangrove.

"Kalau pengaruh langsung memang sulit dilihat. Tapi kalau tidak langsung kita perlu lihat bagaimana nelayan memanfaatkan daerah yang mengalami abrasi," ujar Wahyu.

Di sisi lain, Wahyu menyampaikan ada dua cara untuk mencegah abrasi, yakni secara alami dan bangunan teknik pantai. Secara alami, dia menyebut abrasi bisa dicegah dengan memanfaatkan mangrove.

"Kalau daerah itu sudah mengalami erosi berat, itu perlu bantuan dengan teknik pantai. Misalnya kita membangun groin atau pemecah gelombang," ujarnya.

"Kalau abrasi karena gelombang bisa dibangun groin atau pemecah gelombang. Jadi erosi bisa ditangani."

Wahyu menambahkan abrasi tidak terjadi di seluruh pantai di Indonesia. Sebab, dia berkata beberapa pantai mengalami sedimentasi.

Lebih dari itu, dia juga mengimbau semua masyarakat untuk menghentikan penambangan pasir dan pemusnahan mangrove untuk mencegah abrasi. Dia menyebut abrasi di pantai yang terdapat kehidupan manusia bisa berdampak negatif.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]