Studi: Antibodi Susut, Corona Bisa Infeksi Berkali-kali

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 07:50 WIB
Petugas kesehatan menggunakan alat rapid diagnostic test Corona RI-GHA COVID-19  di ruang Heritage, Kemenko PMK, Jakarta. Kamis (9/7/2020). CNN Indonesia/Andry Novelino Ilustrasi. Studi menyebut seseorang bisa terinfeksi Covid-19 berkali-kali lantaran antibodi bakal menyusut setelah sembuh (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekebalan pasien dari Covid-19 bisa hilang dalam beberapa bulan setelah dinyatakan sembuh.

Temuan itu diharapkan dapat memiliki masukan signifikan bagi pemerintah dalam menangani pandemi. Studi yang dilakukan Universitas Kings College London, Inggris, ini telah diterbitkan dalam makalah pra-cetak di medRxiv. Namun, belum ditinjau oleh rekan sejawat atau peer reviewed.

Dalam studi itu, para peneliti menguji kadar antibodi kepada 96 pasien dan petugas kesehatan di Yayasan NHS Guy dan St Thomas yang terkonfirmasi positif Covid-19.


Para penelitian juga telah dipastikan positif Covid-19 usai menjalani tes PCR atau tes antibodi. Studi ini dilakukan sepanjang Maret dan Juni.

Tubuh akan mengeluarkan antibodi ketika terdeteksi ada bahaya yang masuk, seperti virus. Tubuh lantas mengarahkan sel untuk melacak dan membunuh pembuat onar ini.

Untuk melakukan perburuan, tubuh akan memproduksi protein yang disebut antibodi. Ia diprogram khusus untuk menargetkan antigen spesifik asing yang masuk ke tubuh. Program khusus ini seperti kunci dan lubangnya, sehingga antibodi ini hanya akan mematikan antigen yang sesuai.

Ketika seseorang memiliki antibodi yang cukup, tubuh mereka bakal bisa menangkal infeksi baru yang masuk. Sehingga, mereka akan memiliki kekebalan. Tapi dalam kasus Covid-19, antibodi ini bakal menyusut dalam beberapa bulan. Sehingga, kemungkinan seseorang bakal bisa terinfeksi virus ini berkali-kali seperti terkena influenza.

Melansir MIT, para peneliti menemukan bahwa tingkat antibodi meningkat tiga minggu setelah gejala dimulai. Peningkatan antibodi ini terkait dengan reaksi tubuh melawan virus. Namun, antibodi ini disebutkan dengan cepat menghilang setelah itu.

Sebanyak 60 persen peserta penelitian diketahui menghasilkan respon antibodi "kuat" saat terinfeksi. Namun, hanya 17 persen peserta yang tetap memiliki tingkat antibodi yang sama banyak pada akhir periode pengujian.

Lebih lanjut, para peneliti juga menyampaikan tingkat antibodi lebih tinggi dan mampu bertahan lebih lama pada orang yang memiliki gejala parah Covid-19.

Malah pada beberapa kasus infeksi virus corona dengan gejala yang lebih ringan, mereka tidak mendeteksi antibodi sama sekali di akhir penelitian yang berlangsung tiga bulan itu.

Kesimpulannya, Covid-19 bisa menginfeksi orang berkali-kali. Hal ini serupa dengan sifat infeksi virus corona lain. Sehingga, diperkirakan kekebalan (herd immunity) kemungkinan tidak akan pernah terjadi.

Sehingga, menyuntikkan vaksin sekali pakai atau melalui penyebaran virus di dalam komunitas tidak akan menghindarkan kita dari infeksi virus ini. Sebab, para peneliti menyebut antibodi akan terus berkurang seiring berjalannya waktu.

Meski demikian, para peneliti menyebut antibodi bukan satu-satunya cara orang dapat melawan Covid-19. Mereka berkata Sel T, yang mencari dan menghancurkan sel yang terinfeksi SARS-CoV-2, juga dapat memberikan perlindungan.

Melansir Channel News Asia, Dosen Klinis Warwick Medical School James Gill menilai penelitian itu menegaskan kembali perlunya bagi semua orang untuk terus mengambil langkah-langkah dalam mengurangi penyebaran virus, terutama pada awal musim liburan Eropa.

"Mereka yang memiliki tes antibodi positif, terutama mereka yang tidak dapat menjelaskan di mana mereka terpapar harus terus hati-hati, menjaga jarak sosial, dan menggunakan masker yang tepat," ujar Gill.

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]