Fakta Roket Al-Amal Uni Emirat Arab yang Berhasil ke Mars

CNN Indonesia | Senin, 20/07/2020 18:57 WIB
Uni Emirat Arab (UEA) berhasil meluncurkan pesawat antariksa Hope atau roket Al-Amal ke planet Mars. Roket Hope Uni Emirat Arab berhasil ke Mars. (MHI via AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Salah satu negara di Timur Tengah yaitu Uni Emirat Arab (UEA) pada Minggu (19/7) waktu setempat berhasil meluncurkan pesawat antariksa Hope atau roket Al-Amal ke planet Mars.

Pesawat antariksa Al-Amal diluncurkan dari Tanegashima Space Center, Jepang setelah sempat ditunda minggu lalu akibat cuaca yang buruk. Pesawat diluncurkan menggunakan roket Mitsubishi H-IIA.

Al-Amal diperkirakan akan sampai di Mars pada Februari 2021. Pesawat tersebut akan mengorbit di Mars untuk mengumpulkan data atmosfer Mars selama satu tahun atau setara dengan 687 hari di Bumi.


Al-Amal merupakan misi pertama UEA ke planet merah itu. Misi ini dikembangkan oleh Badan Antariksa UEA yaitu Mohammed bin Rashid Space Center (MBRSC). Pesawat antariksa Al-Amal memiliki bobot 1.350 kilogram, lebar 2,37 meter, dan tinggi 2,90 meter seperti dilansir Space Sky Rocket.

Meskipun pesawat dikembangkan oleh Badan Antariksa UEA, namun transportasi luar angkasa ini dibangun di Laboratory for Atmospheric and Space Physics, Universitas Colorado AS.

Untuk mengisi daya Al-Amal, teknisi membutuhkan dua panel surya berkekuatan 600 watt. Array panel surya ini akan dilipat dan ditempatkan di sisi probe lalu akan terbuka setelah probe berada di orbit Bumi.

Teknisi menyematkan alat komunikasi dengan bantuan antena high-gain yang memiliki lebar 1,5 meter dan disematkan bandwidth 1,6 mbs sampai 250 kbps ketika mendarat di permukaan Mars.

Pesawat antariksa Al-Amal membawa tiga instrumen yaitu Emirates Exploration Imager (EXI), Emirates Mars Infrared Spectrometer (EMIRS), dan Emirates Mars Ultraviolet Spectrometer (EMUS).

Dilansir portal berita DW,EXI dirancang untuk mempelajari atmosfer Mars yang lebih rendah, mengukur kedalaman optik es, dan menganalisis ozon Mars. Lalu EMIRS ditugaskan untuk mempelajari permukaan bawah Mars dan mengukur distribusi debu, awas es, uap air serta suhu.

Sementara EMUS ditugaskan untuk mengukur tingkat dan variabilitas karbon monoksida dan oksigen di termosfer Mars. Selain itu EMUS juga akan mengukur oksigen dan hidrogen di eksosfer.

Termosfer merupakan lapisan atmosfer Bumi yang berada persis di atas mesosfer dan di bawah eksosfer. Sedangkan eksosfer adalah lapisan kelima atmosfer yang terletak pada ketinggian 500-1000 km dari permukaan Bumi.

Misi pesawat antariksa UEA ini pertama kali diumumkan tahun 2014. Namun Mohammed Bin Rashid Space Center dibangun sejak 2006. Pada awal didirikannya MBRSC, mereka melakukan kolaborasi dengan Korea Selatan.

Kolaborasi dua negara tersebut menghasilkan beberapa satelit pengamatan Bumi seperti DubaiSat-1 dan DubaiSat-2 yang diluncurkan tahun 2009 dan 2013.

Empat tahun kemudian MBRSC meluncurkan nanto satelit yaitu Nayif-1 tepatnya pada 2017. Setahun kemudian, mereka kembali meluncurkan satelit yang dinamakan KhalifaSat.

MBRSC juga memiliki program astronaut. Hazzaa Al-Mansoori menjadi astronaut pertama UEA yang terbang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) tahun 2019.

(din/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK