Fakta Eurofighter Typhoon Austria, Jet Tempur Incaran Prabowo

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Rabu, 22/07/2020 18:48 WIB
Eurofighter Typhoon merupakan jet yang dirancang empat negara Eropa yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol. Tet tempur Eurofighter Typhoon. (Foto: Adrian Pingstone (Arpingstone))
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dikabarkan tertarik membeli jet tempur Eurofighter Typhoon milik Austria. Sebanyak 15 unit yang rencananya bakal diboyong Ketua Umum Partai Gerindra itu untuk melengkapi alat pertahanan udara Indonesia.

Rencana pembelian jet tempur Eurofighter Typhoon oleh Indonesia terbongkar setelah surat yang ditanda-tangani oleh Prabowo dan ditujukan kepada Menteri Pertahanan Austria Klaudia Tanner beredar di berbagai platform media.

Surat bernomor 60/M/VII/2020 dan tertanggal 10 Juli 2020 tersebut diberi subjek 'Proposal About Eurofughter Typhoon Aircraft'.


"Untuk mencapai target saya dalam memodernisasi Angkatan Udara Indonesia, oleh karena itu, saya ingin mengusulkan untuk mengadakan perundingan resmi dengan Anda, untuk membeli semua 15 Topan Eurofighter dari Austria untuk Angkatan Udara Republik Indonesia," tulis Prabowo dalam surat itu dikutip Senin (20/7).

Pengadaan pesawat ini menarik banyak pihak, bahkan menuai protes setelah dikabarkan pesawat bekas pakai. Terlepas dari kabar itu, nama Eurofighter Typhoon cukup ditakuti sejumlah negara.

Eurofighter Typhoon merupakan jet yang dirancang empat negara Eropa yakni Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol. Konsolidasi ini melahirkan Eurofighter Jagdflugzeug GmbH sebagai perusahaan induk, di bawahnya terdapat Airbus, BAE Systems, dan Leonardo.

Menurut laman perusahaan, Eurofighter Typhoon telah mempekerjakan lebih dari 100 ribu orang untuk seluruh jaringan di Eropa, termasuk pada rantai pasoknya.

Sedikit mengenai sejarah Eurofighter, proyek ini pertama dimulai pada 1989. Pada tahun itu disepakati masing-masing dari empat negara akan menjadi tuan rumah produksi pesawat tersebut. Mereka kemudian mengembangkan prototipe pertama.

Kemudian pada 1994, Kepala Staf Udara empat negara itu setuju dengan pesawat buatan mereka. Hingga akhirnya DA1 dan DA2 Eurofighter Typhoons diterbangkan untuk melalui ujicoba.

Namun jauh sebelum itu proyek pembuatan Eurofighter diawali sejak 1971. Saat itu Perancis masih menjadi anggota dalam kerja bareng pembuatan pesawat tempur tersebut. Kemudian pada 1985 Prancis meninggalkan proyek tersebut dan memutuskan membangun pesawat tempurnya sendiri.

Typhoon bisa dikayakan sebagai pesawat multi-engine peran ganda, yakni tempur dan siluman. Kelas pesawat ini mungkin setara dengan keluarga SU-27 Flanker dari Russia atau keluarga F-15 Eagle dari Amerika Serikat.

Pesawat ini dibangun dengan mayoritas atau 70 persennya material komposit serat karbon, namun kuat. Hanya 15 persen permukaan pesawat terbuat dari logam. Ini dikatakan mendukung kegunaan pesawat dalam operasi siluma serta perlindungan diri dari sistem berbasis radar.

Pesawat ini dilengkapi dua mesin Eurojet EJ200 yang dapat menghasilkan 90 kN dari masing-masing mesin. Kecepatan maksimal pesawat ini 2 kecepatan suara atau setara 2.469 km per jam.

Memiliki panjang 15,96 meter dan bentang lebar sayap 10,95 meter, pesawat tersebut mampu terbang di atas 55 ribu kaki.

Typhoon juga dilengkapi sistem persenjataan. Misalnya rudal udara jarak pendek (SRAAM), jauh (BVRAAM), hingga meriam dengan bom kecil berdiameter 27 mm. Semua perenjataan juga telah dilengkapi sistem sehingga bidikan pilot tak meleset.

Hingga saat ini telah 550 unit pesawat Typhoon digunakan sebagai kendaraan tempur tujuh negara yakni Jerman, Inggris, Italia, Spanyol, Austria, Oman, dan Arab Saudi.

(ryh/mik)

[Gambas:Video CNN]