Epidemiolog Cermati Tawaf Jemaah Haji Berjarak di Ka'bah

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 10:27 WIB
Epidemiolog mencermati pelaksanaan tawaf jemaah haji di Ka'bah yang diterapkan berjarak demi antisipasi penularan corona. Pelaksanaan tawaf jemaah haji yang ditetapkan berjarak saat mengelilingi Ka'bah saat pelaksanaan ibadah haji (AP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli epidemiologi dari Universitas Airlangga Surabaya, Windhu Purnomo mencermati pelaksanaan tawaf berjarak yang dilakukan jemaah ketika mengelilingi Ka'bah untuk menunaikan ibadah haji dan menghindari penularan virus corona.

Pernyataan itu merujuk pada sebuah video yang diunggah akun @hsharifain di media sosial Twitter pada Rabu (29/7) yang memperlihatkan para jamaah Haji mengelilingi Kabah.


"Kecepatan antar orang itu yang harus diperhatikan, jadi jangan sampai ada yang lebih lambat atau lebih cepat. Karena kalau ada yang lebih lambat atau lebih cepat, pasti pada berdekatan," kata Windhu saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (30/7).

Selain itu, sang askar atau penjaga kawasan Ka'bah juga harus mengawasi pergerakan para jamaah. Menurut Windhu, jarak antar jamaah itu idealnya dua meter.

Lalu Windhu pun memuji kegiatan Tawaf yang dilakukan di luar ruangan bukan di ruangan tertutup karena dinilai relatif lebih aman.

"Cuma tetap yang harus diperhatikan kecepatan harus sama antar jamaah itu, begitu ada kecepatan yang berbeda, pasti berpengaruh karena akan ada kerapatan. Nah itu yang agak sulit," ujarnya.

Lebih lanjut, askar atau penjaga juga perlu mengawasi kecepatan para jamaah saat melakukan ritual Sa'i. Sa'i adalah salah satu kewajiban saat melakukan ibadah haji dan umroh yang dilakukan sembari berlari kecil. 

"Peranan askar di sini penting untuk mengatur kecepatan, pokoknya jangan sampai ada yang memperlambat atau jangan mempercepat. Jadi, semua harus disiplin dalam kecepatan" kata Windhu.

Jemaah lanjut usia

Menurut Windhu, berdasarkan literatur, jamaah haji tahun ini hanya diperbolehkan jumlahnya seribu orang. Tetapi, tidak semua jamaah bisa melakukan Tawaaf, jumlahnya mesti diatur juga kata Windhu.

Keseribu jamaah tersebut merupakan warga lokal atau ekspatriat dan mayoritas jamaah berusia lebih muda dan memiliki riwayat kesehatan yang bagus.

Jemaah yang sudah lanjut usia tidak diperbolehkan melakukan ibadah karena dikhawatirkan dengan mudah terinfeksi virus Covid-19.

"Tentu orang-orang yang diizinkan berhaji adalah orang-orang yang tentu fit, artinya jangan ada yang agak tua enggak boleh. Kalau makin lansia, satu dia berisiko, kedua dia tidak bisa mempertahankan kecepatan tadi karena lebih kurang fit dibanding yang lebih muda," pungkasnya.

Jemaah yang diizinkan beribadah tahun ini hanya mereka yang berusia di bawah 65 tahun dan tidak mempunyai penyakit bawaan.

Seluruh jemaah yang telah memenuhi syarat, melakukan karantina mandiri sepekan sebelum memulai proses ibadah haji. Mereka melakukan pemeriksaan corona sesaat sebelum memasuki kota suci Mekah.

Seluruh jemaah haji pun patut menerapkan jaga jarak selama melaksanakan kegiatan. Setelah proses ibadah haji selesai, jemaah diwajibkan melakukan karantina mandiri lagi.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Saudi telah menetapkan protokol di seluruh lokasi pelaksanaan ibadah haji. Termasuk melarang jemaah menyentuh Kakbah dan Hajar Aswad.

Baik jemaah maupun pemandu semuanya harus diperiksa suhu tubuh di setiap lokasi pelaksanaan haji. Masker dan perlengkapan pelindung wajah harus selalu dipakai.

Sementara untuk di Arafah dan Muzdalifah, dipastikan tidak lebih dari 10 jemaah yang berada di dalam tenda berukuran 50 meter persegi.

Untuk lontar jamrah, tidak lebih dari 50 jamaah per kelompok yang masuk ke lokasi. Dan batu kerikil yang digunakan didesinfeksi lebih dahulu.

(din/eks)

[Gambas:Video CNN]