Menristek soal Vaksin Corona China Halal: Tanya Bio Farma

CNN Indonesia | Kamis, 30/07/2020 20:54 WIB
Menristek enggan berkomentar soal predikat halal vaksin virus corona perusahaan China Sinovac yang akan diuji di Indonesia. Menristek respons isu vaksin corona halal dari China. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro enggan berkomentar soal predikat halal vaksin CoronaVac buatan perusahaan China, yakni Sinovac Biotech Ltd. yang akan diuji di Indonesia. Dia mengaku tidak memiliki kapasitas untuk berkomentar tentang hal tersebut.

"Tidak dalam posisi menjawab ini. Lebih tepat ke Bio Farma ditanyakannya," ujar Bambang kepada CNNIndonesia.com, Rabu (29/7).

Bambang menilai PT Bio Farma (persero) memiliki pengalaman yang baik dalam membuat vaksin. Sehingga, dia meyakini Bio Farma dapat memahami vaksin yang halal.


Di sisi lain, Bambang juga enggan berkomentar dengan langkah Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (MUI) hendak menguji kehalalan vaksin CoronaVac. Selain fokus menciptakan vaksin Merah Putih, dia menilai MUI memiliki standarisasi dalam menilai sebuah produk halal atau tidak.

"Saya fokus vaksin Merah Putih," ujarnya.

Sebelumnya, Universitas Padjadjaran (Unpad) akan melakukan uji klinis terhadap vaksin virus corona Covid-19 yang dibuat Sinovac Biotec Ltd. Uji klinis sedianya akan dilakukan di sejumlah lokasi di Jawa Barat selama 7 bulan.

Belum diketahui secara pasti waktu uji klinis dilakukan. Akan tetapi, vaksin yang telah berada di Indonesia itu dikabarkan hanya tinggal menunggu izin dari Komite Etik sebelum digunakan dalam uji klinis.

Vaksin CoronaVac sedianya akan disuntikkan sebanyak 2 kali tiap 14 hari ke tubuh relawan. Sebab, vaksin dikabarkan menciptakan kekebalan terhadap virus Covid-19 dalam 28 hari.

Perusahaan mengklaim CoronaVac telah menghasilkan respons imun dalam uji klinis fase I dan II. Selain itu, vaksin itu diklaim tidak menyebabkan efek samping yang parah.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]