Misteri Keturunan Singa Modern dan Singa Gua Terungkap

CNN Indonesia | Rabu, 12/08/2020 07:16 WIB
Selama ini peneliti menyimpan pertanyaan apakah Singa modern merupakan keturunan langsung dari Singa Gua yang hidup di zaman es. Ilustrasi (AP Photo/Jerome Delay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Analisis genetik Singa Gua (Panthera spelaea) yang hidup di Zaman Es menunjukkan ternyata spesies ini berbeda dengan singa modern (Panthera leo).

Bukti baru menunjukkan bahwa Singa Gua dengan singa modern merupakan dua garis keturunan yang berbeda. Hasil analisa genetik ini mengakhiri misteri apakah singa modern saat ini  merupakan keturunan dari Singa Gua.

Selama zaman Pleistosen, singa hidup di sebagian besar belahan bumi utara, termasuk di Siberia. Hewan yang tinggal di utara ini adalah Singa Gua, singa ini hidup di luar jangkauan geografis singa modern.


Ahli paleontologi telah mempertanyakan asal usul Singa Gua selama bertahun-tahun. Ilmuwan memiliki dua asumsi, apakah Singa Gua adalah singa modern yang berkelana jauh ke utara atau apakah mereka mewakili spesies yang berbeda.

Laporan baru di Scientific Report mampu menjawab asumsi tersebut dengan menganalisis dan membandingkan lusinan urutan gen dan membuat sketsa pohon keluarga dari Singa Gua.

Ilmuwan dari Pusat Paleogenetik di Universitas Stockholm, Swedia menunjukkan bahwa Singa Gua dan singa modern berbeda adalah spesies yang berbeda.

Terlebih lagi, garis keturunan Singa Gua bercabang menjadi dua  yang sangat berbeda. Keturunan Singa Gua ini terpecah menjadi menjadi kelompok yang tinggal di Siberia dan kelompok yang tinggal lebih jauh ke barat di Eropa.

Secara total, para peneliti menganalisis 31 urutan genom mitokondria, termasuk DNA yang diambil dari anak Singa Gua yang terawetkan secara alami  yang ditemukan dua tahun lalu di Siberia.

Anak Singa itu berumur 28 ribu tahun dan menjadi salah satu sampel dari zaman es yang terawetkan dengan baik. 

"Kami mengurutkan DNA dari tulang Singa Gua, gigi, dan dalam sepotong kulit dari bangkai Singa Gua yang terawat baik," kata penulis utama dalam laporan, David Stanton.

Stanton mengatakan peneliti bisa memperkirakan bahwa Singa Gua dan singa modern terpisah sejauh 1,85 juta tahun lalu melalui pengukuran perbedaan dalam DNA.

Dataset mencakup beberapa sampel yang lebih tua dari 100 ribu tahun lalu, mengungkap perpecahan antara subspesies Singa Gua barat dan timur.

Stanton mengatakan Singa Gua tampak mirip dengan singa modern, namun mereka dianggap sedikit lebih besar.  Menariknya, manusia Pleistosen, yang tinggal bersama singa gua selama zaman es terakhir, melukis singa-singa ini di dinding gua.

Berdasarkan lukisan itu, tampaknya Singa Gua sangat mirip dengan singa modern, tetapi tidak memiliki surai atau rambut.

"Mereka hidup berdampingan dengan hewan seperti bison dan kuda, serta hewan lain yang punah pada waktu yang sama dengan Singa Gua, seperti badak berbulu dan mammoth berbulu," kata Stanton.

Dilansir dari Gizmodo, alasan kepunahan Singa Gua tidak sepenuhnya dipahami peneliti, tetapi seperti banyak hewan lainnya, mereka menghilang pada Zaman Es terakhir. Hilangnya habitat dan kemungkinan akibat manusia memburu hewan besar yang menjadi mangsa Singa Gua yang berujung pada kematian Singa Gua.

Dilansir dari Science Time, ada juga perbedaan antara subspesies Singa Gua seperti pola makan Singa Gua. Subspesies Singa Beringia tampak memburu kuda dan bison, sedangkan Singa Gua Eropa memburu rusa. 

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]