Twitter Menjajaki Kemungkinan 'Kombinasi' dengan TikTok

CNN Indonesia | Minggu, 09/08/2020 11:10 WIB
Twitter membuka diskusi awal untuk menjajaki 'kombinasi' dengan TikTok. Wacana ini menyusul larangan Presiden AS Trump terhadap penggunaan aplikasi TikTok. Ilustrasi: Twitter membuka diskusi awal untuk menjajaki 'kombinasi' dengan TikTok. (Foto: AP/Anjum Naveed)
Jakarta, CNN Indonesia --

Manajemen Twitter tengah menjajaki kemungkinan kombinasi dengan TikTok. Meski begitu belum disebutkan pasti keputusan seperti apa yang akan diambil Twitter, apakah akuisisi atau bentuk 'kombinasi' lain.

Rencana ini menurut laporan Wall Street Journal seperti dikutip AFP, masih dalam tahap diskusi awal.

Untuk sementara ini, Microsoft yang telah secara pasti diketahui menjadi pelamar TikTok dan tengah dalam tahap pembicaraan dengan pemilik TikTok, ByteDance mengenai kemungkinan akuisisi.


Financial Times melaporkan, Microsoft telah memperluas negosiasi setelah kini operasi aplikasi tersebut menjangkau wilayah global.

Sedangkan Twitter, sebagai perusahaan yang lebih kecil dari Microsoft akan memiliki tawaran jangka panjang untuk TikTok. Laporan Wall Street Journal menyebut karena jauh lebih pula, Twitter punya peluang lebih sedikit untuk diawasi tim antitrust.

Hanya saja jika menimbang soal akuisisi, sebagai perusahaan yang lebih kecil, kemampuan keuangan Twitter pun di bawah Microsoft. Bagaimanapun, Twitter tetap membutuhkan dukungan investor lain untuk menyelesaikan 'kombinasi' tersebut.

Sementara Microsoft melalui unggahan resmi pada 2 Agustus menyatakan bahwa CEO-nya, Satya Nadella telah berbicara dengan Presiden Trump mengenai kemungkinan akuisisi TikTok yang akan mencakup operasi di Amerika Serikat, Australia, Kanada dan Selandia Baru.

Pelbagai rencana pengambilalihan TikTok mengemuka setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bakal melarang aplikasi TikTok karena dianggap mengancam keamanan nasional.

Sebelumnya pada Kamis, Trump mengumumkan bahwa aplikasi video populer asal China, TikTok dan jejaring sosial WeChat mengancam keamanan nasional, kebjakan luar negeri dan ekonomi Amerika Serikat. Kendati, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa ByteDance atau TikTok pernah membagikan data warga Amerika ke pemerintah China.

Melalui perintah eksekutif, Trump memberi tenggat 45 hari ke warga Amerika untuk berhenti berbisnis dengan platform tersebut. Trump juga menuntut agar sebagian besar penjualan masuk ke Departemen Keuangan Amerika Serikat.

Meskipun kini Twitter telah mengizinkan untuk berbagi video, namun sebagian besar kiriman masih berisi pecan teks singkat dan foto atau GIF. Pada 2012 Twitter pernah juga mengakuisisi platform Vine--yang memungkinkan penggunanya berbagi video pendek--tetapi lantas layanan tersebut ditutup pada 2016.

(AFP/NMA)

[Gambas:Video CNN]