NASA Temukan Struktur Helium di Atmosfer Matahari

CNN Indonesia | Selasa, 11/08/2020 01:05 WIB
Para ilmuwan mengaku belum mengetahui berapa banyak jumlah Helium yang ada di atmosfer matahari. Ilustrasi struktur helium di atmosfer Matahari. (Foto: ESA NASA via AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Roket investigasi NASA mengklaim menemukan struktur Helium pada atmosfer matahari. Helium adalah unsur paling melimpah kedua di alam semesta setelah hidrogen.

Para ilmuwan mengaku belum mengetahui berapa banyak jumlah Helium yang ada di atmosfer matahari. Mereka beralasan pengukuran Helium pada atmosfer Matahari sulit dilakukan.

Melansir SciTech Daily, Senin (10/8), peneliti mengatakan pengamatan menemukan rasio yang jauh lebih rendah dari yang diperkirakan saat mengukur rasio helium dan hidrogen dalam angin matahari saat mencapai bumi.


Para ilmuwan menduga helium yang hilang mungkin tertinggal di lapisan atmosfer terluar matahari, yang disebut korona atau mungkin di lapisan yang lebih dalam.

Peneliti mengatakan jumlah helium di atmosfer Matahari merupakan hal yang penting untuk memahami asal dan percepatan angin Matahari.

Untuk mengukur jumlah helium dan hidrogen di atmosfer, roket investigasi NASA yang bernama HERSCHEL mengambil gambar dari korona matahari. Pengamatan HERSCHEL menunjukkan bahwa helium tidak terdistribusi secara merata di sekitar korona. Daerah ekuator hampir tidak memiliki helium, sedangkan daerah di garis lintang tengah banyak.

Membandingkan dengan gambar dari ESA / NASA's Solar and Heliospheric Observatory ( SOHO ), para ilmuwan mampu menunjukkan limpahan helium di tengah garis lintang yang tumpang tindih dengan garis medan magnet matahari.

Hal ini menunjukkan bahwa rasio helium terhadap hidrogen sangat erat kaitannya dengan medan magnet dan kecepatan angin matahari di korona.

Diberitakan Phsy, roket HERSCHEL menambah upaya untuk memahami asal-usul komponen angin matahari. HERSCHEL dari jarak jauh menyelidiki komposisi unsur wilayah tempat angin matahari dipercepat.

Pada kesimpulan awal, peneliti menyebut Helium memberi daya pada elemen paling ringan, yakni proton hidrogen terionisasi untuk melepaskan diri dari Matahari.

Di masa depan, para ilmuwan berencana melakukan lebih banyak pengamatan untuk menjelaskan perbedaan jumlah Helium di Matahari.

Dua instrumen baru, yakni Metis dan EUI diklaim mampu melakukan pengukuran kelimpahan global yang serupa dan akan membantu memberikan informasi baru tentang rasio helium di korona matahari.

(mik/mik)

[Gambas:Video CNN]