BMKG Jelaskan Sebab Suhu Malam Lebih Dingin Saat Kemarau

CNN Indonesia | Sabtu, 01/08/2020 13:15 WIB
Saat malam hari pada musim kemarau awan penghalang radiasi matahari berkurang sebab angin Monsun dari Australia. Ilustrasi malam hari lebih dingin pada musim kemarau. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Bumi tidak menerima radiasi Matahari sebagai sumber panas pada malam hari di musim kemarau. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal mengatakan hal itu yang membuat suhu udara di Indonesia menjadi lebih dingin pada malam hari.

"Pada kondisi seperti ini kondisi udara pada malam hari lebih dingin dibanding kondisi udara malam hari di musim hujan," ujar Herizal kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Herizal menjelaskan radiasi Bumi bisa terlepas maksimal ke angkasa ketika udara cerah tidak berawan. Sehingga, kondisi itu membuat udara pada malam hari lebih dingin dibanding kondisi udara malam hari di musim hujan.


Berdasarkan pengamatan, daerah dataran tinggi seperti Bandung, Malang, dan Dieng menjadi daerah yang lebih merasakan suhu dingin di malam hari. BMKG mencatat suhu udara di Kota Bandung bisa mencapai 16 derajat Celsius sementara di Lembang mencapai 13,6 derajat Celsius.

Sedangkan di Dieng bahkan dilaporkan bisa menyentuh angka minus 4 derajat Celcius.

Sebaliknya, Herizal mengatakan radiasi Matahari bisa diterima Bumi secara maksimum pada siang hari karena tidak ada awan sebagai penghalang. Hal ini membuat suhu pada siang hari menjadi lebih panas.

Herizal berkata minimnya awan itu disebabkan dominasi angin monsun Australia yang mengalirkan massa udara dingin dan kering dari Benua Australia menuju Asia melewati Samudera Indonesia dan wilayah Kepulauan Indonesia.

Penguatan monsun Australia biasanya berkaitan dengan perkembangan sistem tekanan tinggi di atmosfer, di atas Benua Australia yang mendorong massa udara memiliki aliran yang lebih kuat dari biasanya.

Berdasarkan pengamatan Herizal juga mengatakan wilayah di selatan ekuator, seperti Nusa Tenggara, Bali, Jawa dan Lampung sedang mengalami musim kemarau. Puncak musim kemarau diprediksi akan terjadi pada Agustus 2020.

"Menjelang dan pada puncak musim kemarau, angin monsun Australia dominan mewarnai cuaca Indonesia di wilayah selatan ekuator yang ditandai langit cerah sepanjang hari dan kelembaban rendah," kata Herizal.

(pjs/fea)

[Gambas:Video CNN]