Kominfo Ingatkan Ancaman Infodemik di Tengah Pandemi

Kominfo, CNN Indonesia | Kamis, 13/08/2020 16:37 WIB
Kominfo mengingatkan masyarakat terkait beredarnya informasi berlebih yang dapat menganggu pencarian solusi dari masalah utama, yaitu pandemi Covid-19. Kominfo mengingatkan masyarakat terkait beredarnya informasi berlebih yang dapat menganggu pencarian solusi dari masalah utama, yaitu pandemi Covid-19. (Foto: CNN Indonesia/Kustin Ayuwuragil)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Komunikasi dan Informatika bersiap memperingati HUT ke-75 Republik Indonesia lewat realitas virtual. Menjalani suasana berbeda akibat pandemi Covid-19, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Widodo Muktiyo meyakini peringatan akan tetap meriah meski upacara bendera di Istana Merdeka sepenuhnya berlangsung secara virtual.

"Kami sedang mengkonsolidasikan ke kementerian, lembaga dan daerah, bahwa 17 Agustus kali ini kita harus gembira melalui virtual. Ada realitas lain di luar realitas sosial, yakni realitas virtual, termasuk pada prosesi upacara bendera 17 Agustus di Istana Merdeka," kata Widodo dalam talk show Newcast CNN Indonesia TV, Senin (10/8).

"Yang ikut [upacara bendera] di Istana akan dibatasi, tetapi kami mengundang masyarakat luas untuk mengikuti upacara bendera secara virtual. Kami siapkan tempat untuk 17.845 peserta upacara virtual," papar Widodo.


Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Sebelas Maret ini menggarisbawahi bahwa peringatan 75 Tahun Indonesia Merdeka sebagai momentum untuk mengulik optimisme menuju Indonesia Maju dengan dipimpin oleh Presiden Joko Widodo. Termasuk, saat mengeluarkan Pepres 82/2020 untuk memastikan keseimbangan penanganan kesehatan dan Pemulihan Ekonomi Nasional sebagai dampak pandemi.

Terkait maraknya hoaks di masa pandemi, Widodo menjelaskan bahwa pemerintah berupaya keras memantau dan melakukan berbagai upaya mengatasi berita-berita tak benar di media sosial maupun antar percakapan kelompok di aplikasi ponsel. Ia mengingatkan tentang tsunami informasi dan infodemik, yaitu kondisi di mana terdapat informasi berlebih terkait sebuah masalah, sehingga hal itu mengganggu usaha pencarian solusi dari masalah utama.

"Untuk itulah, Kementerian Kominfo melakukan narasi yang terintegrasi. Narasi positif ini kita kemas multiplatform, baik melalui media konvensional, media sosial dan juga melalui masyarakat berbasis komunitas. Ujungnya, masyarakat memiliki kepercayaan pada informasi yang sehat dan benar," kata Widodo.

Dalam 6 bulan masa pandemi, Widodo menyebut sejumlah perubahan positif pada masyarakat, seperti penerapan gaya hidup sehat, gaya hidup konektivitas, dan gaya hidup solidaritas. Menurutnya, perubahan tersebut yang kemudian diupayakan diolah dalam konteks koeksistensi di tengah masyarakat agar tetap produktif dan aman dari Covid-19.

[Gambas:Video CNN]

Ia menambahkan, Covid-19 tak boleh membuyarkan mimpi Indonesia menjadi negara maju saat bangsa ini berusia seabad pada 2045. Ketika berusia 100 tahun, Indonesia bertekad masuk dalam lima besar negara dengan kekuatan ekonomi dan peradaban terbaik dunia.

"Kita harus berani membangun mimpi-mimpi dalam harapan budaya itu. Berprasangka baik bahwa kita bisa menyelesaikan tantangan ini," ucapnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia Djayadi Hanan mengungkapkan, pemerintah memiliki modal kuat untuk mengajak masyarakat bersama-sama melawan pandemi. Berbagai hasil jajak pendapat belakangan ini disebut menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat bahwa pemerintah dan presiden akan membawa negara keluar dari pandemi terhitung tinggi di atas 70 persen.

Selain itu, di balik keterpurukan ekonomi yang diakui oleh 70 sampai 80 persen penduduk, publik masih cukup rasional untuk tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah.

"Ini modal besar bagi pemerintah untuk mengeksekusi rencana-rencananya, memperbaiki yang kurang, serta berfokus pada tiga hal, kesehatan, ekonomi, dan pendidikan," kata dosen Universitas Paramadina itu.

Djayadi mengatakan, narasi optimistis bisa dibangun, namun berdasar realitas. Terlebih bagaimana penanganan Covid-19 menunjukkan kemajuan berarti dan arah yang jelas dari pemerintah dan publik.

"Yang penting saat ini, trust atau kepercayaan kepada pemerintah harus benar-benar dijaga. Kepercayaan tidak akan terbangun jika antar pemerintah simpang siur satu sama lain, misalnya," ujarnya.

Adapun selebritas yang juga Ketua Umum Siberkreasi Yosi Mokalu menekankan, pada situasi Pandemi Covid-19 ini justru para artis dan musisi menunjukkan solidaritas.

"Pada industri hiburan yang sangat terpukul dimasa pendemi inilah terlihat hal yang nyata dari ungkapan 'Bersama Kita Kuat'. Semua saling membantu," ungkap Yosi.

(rea)