Usai TikTok dan WeChat, Alibaba Dikabarkan jadi Target Trump

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Jumat, 14/08/2020 19:51 WIB
Alibaba merupakan perusahaan e-commerce ritel terbesar di dunia. Masa depan perusahaan itu di AS ada di tangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: AP/Susan Walsh)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan bakal kembali melarang perusahaan teknologi raksasa China beroperasi di AS Alibaba, menyusul Huawei, TikTok (ByteDance), dan WeChat (Tencent). Alibaba merupakan perusahaan e-commerce ritel terbesar di dunia.

Tidak seperti ByteDance atau Huawei yang berhasil melakukan ekspansi global hingga ke AS, Alibaba sejatinya tidak terlalu berhasil melakukan ekspansi ke pasar Barat. Tetapi fakta bahwa perusahaan itu adalah jawara teknologi asal China mungkin menjadi alasan yang cukup bagi Trump bakal melakukan larangan.

Melansir CNN, Jumat (14/8) peneliti Hinrich Foundation Alex Capri mengatakan perubahan paradigma dan geopolitik sedang mengalami transformasi bersejarah sekarang. Kebijakan pejabat AS membuat lebih banyak tuduhan terhadap perusahaan teknologi China merupakan indikasi bahwa pemerintah AS benar-benar ingin memisahkan industri teknologinya.


Capri berkata Alibaba memang belum diancam dengan jenis sanksi yang sama dengan yang diusulkan atau dikenakan Trump terhadap perusahaan teknologi China lainnya. Trump bahkan telah berbicara dengan tentang pendiri perusahaan Jack Ma dan memanggilnya 'teman saya' awal tahun ini setelah miliarder China itu mengatakan dia akan menyumbangkan dana untuk memerangi pandemi virus corona.

Tapi, dia menyebut perusahaan itu saat ini dalam pemantauan para pejabat AS. Salah satu buktinya, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo diketahui sempat memeriksa nama Alibaba mendesak perusahaan-perusahaan Amerika untuk menghapus teknologi milik China yang 'tidak dipercaya' dari jaringan digital mereka.

Pemerintahan Trump berasalan ingin melindungi informasi pribadi paling sensitif orang Amerika dan kekayaan intelektual bisnisnya yang paling berharga, termasuk penelitian vaksin Covid-19 agar tidak diakses pada sistem berbasis cloud yang dijalankan oleh perusahaan seperti Alibaba dan Tencent.

Melansir KITV, Alibaba enggan berkomentar terkait dengan kemungkinan tersebut. Namun, larangan yang bisa jadi diterapkan AS tidak akan berdampak pada bisinis Alibaba di China yang menyumbang 80 persen pendapatan perusahaan.

Sementara pasar global, hanya menyumbang 7 persen.

Meskipun Alibaba menghasilkan sedikit pendapatan dari AS, negara tersebut masih merupakan pasar yang penting. Tahun lalu, perusahaan membuka bisnis e-commerce untuk bisnis kecil di AS dan meluncurkan versi bahasa Inggris dari platform Tmall untuk pertama kalinya.

Banyak perusahaan besar AS sudah menjual barang di Tmall, termasuk Apple, Nike, dan Johnson & Johnson.

(jps/mik)

[Gambas:Video CNN]