Ilmuwan Ciptakan Ultra Broadband, Jauh Lebih Cepat dari 5G

CNN Indonesia | Selasa, 25/08/2020 10:21 WIB
Tim ilmuwan Inggris berhasil menciptakan ultra broadband yang sejuta kali jauh lebih cepat dari koneksi 5G. Ilustrasi kecepatan internet (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tim ilmuwan Inggris menemukan cara untuk meningkatkan kecepatan internet lewat kabel serat optik yang jauh lebih cepat dari 5G.

Para peneliti dari dari Universitas London College ini berhasil mencapai rekor kecepatan internet hingga 178,08 terabit per detik (Tbps).

Penelitian yang dipimpin Lidia Galdino itu menjelaskan 178.08Tbps sama dengan 22.25TB / detik, atau lebih dari 222 disk Blu-ray Ultra HD.


Sementara kecepatan 5G sendiri sekitar 50 Mbit/detik hingga 1 gigabit/detik. Ini berarti kecepatan kabel serat optik ini sejuta kali lebih cepat dari kecepatan 5G.

Perbandingan lain adalah dengan kabel serat optik tercepat di dunia saat ini. Sambugan internet itu adalah kabel bawah laut buatan Google dari Jepang dan Pantai Barat AS.

Kabel serat optik tersebut hanya mampu mentransfer data dengan kecepatan 60Tbps. Kecepatan ini hanya sepertiga dari kecepatan transfer data baru yang ditemukan ilmuwan Inggris.

"Ini penting karena lalu lintas dan data internet telah meningkat secara eksponensial selama 10 tahun terakhir," ujar Galdino.

Kabel bawah laut Google tadi menelan biaya pembuatan US$300 juta atau Rp4,4 triliun beberapa tahun lalu.

Pengetesan kecepatan transfer data ini dilakukan di laboratorim menggunakan kabel loop serat optik mode tunggal sepanjang 40 kilometer.

Para ilmuwan menggunakan serat hybrid Raman dan amplifier untuk mengaktifkan penguatan sinyal pita lebar tanpa celah spektral antara pita amplifikasi.

Belum dapat dipastikan kapan temuan itu bisa diterapkan secara komersil. Namun, jika temuan ini berhasil, maka berpotensi menawarkan pengguna kecepatan internet yang lebih tinggi.

Sehingga bisa digunakan untuk aplikasi kota pintar (smart city). Kecepatan data ini juga bisa mendukung aplikasi yang haus data seperti mobil tanpa pengemudi, seperti dilaporkan Standard

Melansir Tech Radar, para peneliti mengatakan bahwa untuk mengatasi ketergantungan panjang gelombang SNR yang signifikan, yang merupakan hasil dari parameter serat dan metode amplifikasi hybrid, mereka harus mengoptimalkan sinyal untuk setiap SNR, panjang gelombang, dan jalur transmisi. 

(jps/eks)

[Gambas:Video CNN]