Grab Dukung Bisnis Frozen Food Kembali Bangkit dan Profit

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 14/09/2020 19:59 WIB
Pasutri pemilik usaha kuliner se'i di Jakarta ini menginovasi produknya jadi frozen food dan gabung Grab agar penjualan bangkit lagi dan bisa bayar 4 karyawan. Ilustrasi se'i, kuliner khas Nusa Tenggara Timur (Foto: iStockphoto/MielPhotos2008)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada kalanya bisnis jalan melambat. Entah karena tren musiman yang berubah atau kurang permintaan, diperparah juga di masa pandemi seperti sekarang.

Perlambatan ini tentu bisa menyulitkan pengusaha. Banyak hal yang dikhawatirkan seperti 'kesehatan' bisnis, bayar karyawan, tagihan, pendapatan dan omzet yang menurun.

Kondisi ini turut dirasakan pasutri Lydia dan Ferry. Pemilik kedai makanan khas Nusa Tenggara Timur, se'i sapi dan ayam, yang berlokasi di Jakarta ini mengaku omzet mereka berkurang.


Tak ingin kalah dengan keadaan, keduanya memutuskan melakukan inovasi produk agar penjualan kembali bangkit.

"Dari situ terlintas masakan kita bikin frozen food. Malah sebetulnya ini ide pelanggan karena ada kalanya mereka mau bawa buat oleh-oleh ke luar kota. Jadilah ada menu frozen sejak Maret," ujar Lydia dikutip dari Grab, pekan lalu.

Meski menjual produk beku, ia tak menggunakan bahan pengawet sama sekali, sehingga pelanggan tak perlu khawatir mengonsumsi se'inya.

"Semua kita coba dulu. Masa simpan berapa lama, kuat nggak. Karena kita tanpa pengawet. Setelah kita coba, dan rasanya sama seperti saat dine in, tidak berubah walau frozen, baru kita jual," cerita Lydia.

Selain pada produk, pasutri ini juga merambah ke online untuk meningkatkan pelayanan.

"Untuk pertama kalinya juga, menu inovasi ini kita coba jual di jaringan toko online, sebelumnya nggak kepikiran. Apalagi pandemi susah juga pelanggan untuk dine-in. Jadi itulah idenya timbul switch ke online."

Ia mendaftarkan kedainya ke GrabFood sehingga pelanggan lebih mudah membeli makanan untuk dinikmati di rumah atau dibuat oleh-oleh.

"Sekarang ada GrabFood pesanan bisa diantar. Ada toko online ya bisa jual sampai luar kota. Hasilnya sekarang 70 persen bergantung dari online," ujar Lydia.

Tak terasa, kedai kuliner kekinian miliknya sudah berjalan setahun. Sempat merasakan turun-naiknya bisnis tak membuat Lydia dan Ferry patah arang, asalkan #TerusUsaha pasti ada jalan.

"Aku sempat nggak mikirin profit, yang penting jalan lah. Tapi sekarang setiap bulan bisa membayar 4 karyawan. Dengan online, bukan cuma bisa bertahan tapi bisa #TerusUsaha dan profit," ujarnya.

(fef)

[Gambas:Video CNN]