Sebelum Api, Manusia Masak Pakai Air Panas 2 Juta Tahun Lalu

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 14:47 WIB
Peneliti menemukan bukti sejumlah mata air panas dengan susu 80 derajat celcius di dekat situs manusia purba. Ilustrasi manusia purba. (MARCO BERTORELLO / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tim arkeologi mengungkap nenek moyang manusia purba menggunakan sumber air panas untuk merebus makanan sekitar 1,8 hingga 2 juta tahun lalu, jauh sebelum mereka menguasai memasak dengan api.

Peneliti dari Spanyol dan AS kini telah menemukan bukti bahwa lembah celah di Ngarai Olduvai di Tanzania berisi sejumlah mata air panas di dekat situs manusia purba.

Keberadaan mata air panas ini menunjukkan bukan suatu kebetulan manusia purba menetap di daerah ini. Penemuan mereka menunjukkan bahwa daerah itu dulunya kaya akan ventilasi hidrotermal yang mampu mendidihkan air pada suhu lebih dari 80 derajat celsius.


Keberadaan ventilasi ini sangat dekat dengan situs pemukiman manusia purba yang ditemukan menampilkan perkakas batu dan tulang hewan. Hal ini memunculkan kemungkinan yang menarik bahwa mata air panas tersebut dapat digunakan oleh manusia purba untuk memasak makanan.

Ngarai Olduvai di Tanzania utara telah menghasilkan beberapa peninggalan tertua nenek moyang manusia purba yang diketahui hingga saat ini. Temuan ini dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

"Jika ada rusa kutub yang jatuh ke dalam air dan dimasak, mengapa kamu tidak memakannya?" penulis utama makalah, Ainara Sistiaga di di MIT dan Universitas Kopenhagen.

Ide bahwa manusia purba memasak dengan menggunakan air panas, pertama kali muncul pada tahun 2016 selama ekspedisi arkeologi di Ngarai Olduvai.

Dalam ekspedisi ini, para peneliti mengumpulkan sedimen dari lapisan batuan terbuka sepanjang 3 kilometer yang diendapkan sekitar 1,7 juta tahun yang lalu. Anehnya, lapisan geologi berpasir ini sangat berbeda dengan lapisan tanah liat gelap tepat di bawahnya yang mengendap 1,8 juta tahun lalu.

Hal ini sejalan dengan perubahan lingkungan besar yang terjadi di Afrika Timur pada saat sudut dunia ini bergeser dari tanah yang basah dan subur ke daerah yang lebih kering dan lebih lapang.

Dilansir dari IFL Science, peneliti juga menemukan tanda-tanda lipid yang diproduksi oleh kelompok bakteri tertentu yang juga hidup di sumber air panas Taman Nasional Yellowstone.

Hal ini mengisyaratkan bahwa mata air panas sedang meluap pada saat hominid mulai menetap di sana. Bakteri tersebut bernama Thermocrinis ruber yang biasanya hidup di saluran keluar mata air panas.

Bakteri bahkan tidak akan tumbuh kecuali suhunya di atas 80 derajat Celsius. Menunjukkan bahwa mata air panas kemungkinan besar ada di Ngarai Olduvai, yang dikenal sebagai wilayah yang secara geologis aktif.

"Mereka bahkan tidak akan tumbuh kecuali suhunya di atas 80 derajat celsius.  Beberapa sampel yang dibawa Ainara dari lapisan berpasir di Ngarai Olduvai ini memiliki kumpulan lipid bakteri yang sama yang kami anggap secara jelas menunjukkan air bersuhu tinggi, kata Profesor Roger Summons dari MIT.

Jika ada fitur hidrotermal di sana, tidak diketahui bagaimana spesies yang punah mungkin berinteraksi dengan mereka sekitar 1,8 juta tahun yang lalu.

Namun, para peneliti berpendapat bahwa temuan mereka mengilustrasikan gambaran di mana nenek moyang manusia purba berpotensi menggunakan sumber air panas seperti panci rebus untuk memasak makanan.

Dilansir dari Daily Mail, memang masih diperdebatkan mengapa manusia purba bisa terpikirkan untuk merebus daging ke dalam sumber air panas.

Selain itu, tanggal pasti "penemuan" api manusia masih diperdebatkan. Beberapa bukti yang paling disepakati mengatakan nenek moyang manusia menggunakan api sekitar 1 juta tahun yang lalu.

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]