LIPI Respons Covid-19 Serang Antibodi Sampai Kronis Mirip HIV

Jonathan Patrick, CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 15:42 WIB
LIPI menanggapi virus corona SARS-CoV-2 berpotensi untuk menyerang antibodi karena memiliki struktur ADE. Ilustrasi virus corona SARS-CoV-2. (Foto: iStockphoto/Naeblys)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Laboratorium Rekayasa Genetika Terapan dan Protein Desain Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Wien Kusharyoto mengatakan virus corona SARS-CoV-2 pada penderita Covid-19 berpotensi menimbulkan pola efek ADE (antibody-dependent Enhancement) dapat terjadi.

"Potensi terjadinya ADE oleh antibodi yang terbentuk karena infeksi virus SARS-CoV-2 memang ada, termasuk oleh antibodi yang spesifik terhadap protein spike (anti-spike antibodi)," kata Wien saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (17/9).

Sebelumnya, Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Chaerul Anwar Nidom menyebut virus corona SARS-CoV-2 berpotensi untuk menyerang antibodi karena memiliki struktur ADE. Pada penderita Covid-19 akibat virus corona itu akan berbahaya karena menimbulkan penyakit kronis tanpa gejala seperti HIV.


Menurut Wien antibodi dapat berikatan dengan virus yang aktif. Ikatan ini memfasilitasi masuknya virus ke dalam sel terutama monosit atau makrofaga melalui ikatan dengan FcgammaR pada permukaan sel tersebut. Virus kemudian dapat bereplikasi dalam sel tersebut.

"Dalam hal ini ADE memudahkan virusnya masuk ke dalam dan kemudian bereplikasi di dalam sel," ucap Wien.

Wien menjelaskan ADE adalah sebuah mekanisme, ketika antibodi yang terbentuk karena infeksi virus justru memudahkan virusnya menginfeksi sel dan bereplikasi di dalam sel tersebut.

Meskipun berperan penting dalam netralisasi virus, anti-spike antibodi juga memberikan kemungkinan terjadinya inflamasi (peradangan) dan kerusakan pada paru-paru.

"Anti-spike antibodi yang berikatan dengan virus berinteraksi dengan reseptornya FcgammaR pada monosit/makrofaga yang mengakibatkan produksi sitokin proinflamasi. Hal ini menyebabkan perekrutan dan akumulasi sel imun di paru-paru yang dapat menyebabkan Acute Respiratory Distress Syndrom," tutur Wien.

Wien mengatakan hal tersebut juga terjadi pada pasien Covid-19, terutama bagi pasien yang sejak awal sudah memproduksi antibodi dalam konsentrasi tinggi.

Efek peradangan dan kerusakan pada paru-paru juga dapat dimungkinkan oleh antibodi yang spesifik terhadap protein virus lainnya, misalnya terhadap protein N (nukleokapsid).

"Oleh karena itu, kedua efek tersebut perlu ditelaah lebih jauh, termasuk dalam pengembangan vaksin, agar diperoleh proporsi yang optimal antara antibodi yang dapat menetralisir virus dan antibodi yang justru dapat merugikan karena dapat memperparah penyakitnya," jelas Wien.

Wien menduga ADE ini tidak hanya terkait dengan antibodi yang terbentuk akibat mutasi virus corona D614G. ADE juga bisa berkaitan dengan antibodi yang dapat berikatan dengan protein spike, namun antibodi tidak dapat menetralisir virusnya.

"ADE biasa terjadi pada kasus infeksi oleh virus Dengue, Zika influenza maupun FIP atau virus corona yang menginfeksi kucing," tutur Wien.

(jnp/mik)

[Gambas:Video CNN]