Epidemiolog RI Respons Covid-19 Meningkat di Musim Dingin

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 20:29 WIB
Epidemiolog RI merespons temuan WHO yang mengatakan penularan virus corona Covid-19 bisa meningkat di musim dingin. Ilustrasi virus corona. (AP/Anupam Nath)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Pandemi & Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan angka penularan pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 tak berkaitan dengan musim dingin. Hal ini ia ungkap berdasarkan penelitian-penelitian terkait pandemi baru tersebut yang telah dilakukan sejauh ini.

Dicky mengatakan SARS-CoV-2 yang masuk keluarga virus corona beserta SARS dan MERS berbeda dibandingkan penyakit infeksi Saluran Pernapasan (ISP) akibat virus seperti flu musiman.

"Virus corona berdasarkan fakta ilmiah belum menunjukkan ada keterkaitan dengan, sejauh  pengetahuan kita yang saat ini kita miliki," kata Dicky saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (17/9).


Pernyataan Dicky ini merespons temuan Organisasi Kesehatan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau WHO yang mengatakan penularan Covid-19 bisa meningkat di musim dingin.

Di sisi lain Dicky mengingatkan perlu penelitian untuk melihat lebih jauh apakah benar ada keterkaitan virus corona dengan musim. Ia mengatakan kecenderungan penyebaran virus ini disebabkan oleh karakter atau tabiat orang yang tela terinfeksi.

"Kecenderungan lebih terjadi penyebaran karena virus ini dibawa orang. Karakter atau tabiat dari orang ini yang pengaruhi. termasuk sistem imunitas dari orang itu," kata Dicky.

Dicky mengatakan penyebaran penyakit ISP yang disebabkan oleh virus adenovirus dan rhinovirus memang cenderung dipengaruhi oleh  musim dingin atau musim hujan.

Secara umum peningkatan penyakit ISP yang disebabkan oleh virus cenderung terjadi di musim dingin. Di saat suhu lebih dingin dan lebih lembab.

"Virus flu musiman, kalau misalnya influenza umumnya memang jadi wabah di musim dingin atau hujan. Seperti rhinovirus atau adenovirus yang menyebabkan gejala ringan seperti masuk angin atau common cold. Infeksi virus ini yang memang cenderung pada musim dingin," ujar Dicky.

Sebelumnya, beberapa wilayah Indonesia dilanda oleh hujan dalam satu minggu terakhir. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal menjelaskan saat ini Indonesia memang telah memasuki musim kemarau. Namun bukan berarti tidak akan ada hujan sama sekali di musim kemarau.

Herizal menjelaskan musim kemarau tahun ini tidak sekering tahun lalu disebabkan oleh  faktor global yang memengaruhi musim di Indonesia seperti El Nino dan Dipole mode berada dalam kondisi netral. Fenomena ini diprediksi bisa terjadi sampai akhir tahun dengan sedikit peluang La Nina (basah) di akhir tahun.

La Nina mengakibatkan musim kemarau Indonesia menjadi lebih basah karena meningkatkan curah hujan. Musim hujan sering dikaitkan dengan banyaknya penyakit yang bermunculan.

Ahli cuaca dari Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG), Deni Septiadi menyatakan belum ada penelitian yang mampu menjelaskan hubungan cuaca dengan penyebaran penyakit Covid-19 akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2. Dia mengatakan data mengenai hubungan itu masih sangat minim.

"Saat ini dengan data yang masih sangat minim sulit untuk mengasumsikan bahwa cuaca, baik hangat atau dingin memberikan respons signifikan terhadap penyebaran Covid-19," ujar Deni kepada CNNIndonesia.com.

Covid-19 Banyak Menular Saat Musim Panas

Deni menyampaikan infeksi virus corona baru justru seakan semakin menjadi di Indonesia, wilayah yang cenderung hangat dengan kisaran suhu rata-rata antara 23-28 derajat Celsius. Data per 30 Agustus 2020, angka harian infeksi mencapai 3000 lebih dengan total kasus adalah 172.053 kasus.

Daerah-daerah urban seperti Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Jawa Barat mendominasi kasus terbanyak di Indonesia.

Di sisi lain, Deni menyatakan virus Corona disebut sebagai virus berselubung karena berselubung dalam jubah berminyak atau lapisan lapisan lipid, bertabur protein dengan bentuk tonjolan-tonjolan seperti pada mahkota.

Penelitian pada virus berselubung lainnya menunjukkan bahwa jubah berminyak itu membuat virus tersebut lebih rentan pada panas dibandingkan virus yang tidak berselubung.

Pada kondisi yang dingin, jubah berminyak mengeras seperti karet atau lemak dari daging yang dimasak matang kemudian dingin. Jubah itu berfungsi melindungi virus ketika virus itu berada di luar tubuh sehingga  sebagian virus berselubung cenderung memperlihatkan perilaku musiman yang kuat.

Riset lain, kata dia menyebutkan virus Corona dapat di deaktivasi pada suhu 60 derajat Celsius yang dipanaskan selama 1 jam. Virus SARS-CoV-2 bahkan bisa bertahan hidup hingga 72 jam pada permukaan keras seperti plastik dan baja anti karat dalam suhu antara 21-23 derajat Celsius dan kelembaban relatif 40 persen.  

Virus Corona jenis lain mengindikasikan mereka dapat bertahan hidup selama lebih dari 28 hari pada suhu 4 derajat Celsius.

"Namun demikian, untuk menghubungkannya dengan perlambatan sebaran terhadap cuaca dan iklim masih jauh dan belum memperlihatkan korelasi yang signifikan, bahkan tidak," ujar Deni.

Negara-negara yang memiliki iklim serupa dengan Indonesia, seperti Singapura, Filipina, Malaysia, dan Thailand  juga mengalami kondisi pandemi yang hampir sama. Bahkan Vietnam yang sempat bersinar sebagai negara dengan jumlah kasus yang minim, pada akhir Juli hingga Agustus 2020 mengalami lonjakan yang cukup signifikan.

"Kalau kita analis lagi update data corona dunia, dari semua negara terdampak laju sebenarnya tidak memperlihatkan koherensi terhadap cuaca dan iklim," ujar Deni.

Lebih dari itu, Deni kembali mengingatkan ketersediaan data dan periode studi yang singkat sejak dimulainya pandemi merupakan limitasi dalam melakukan kalkulasi secara objektif.

"Jadi masih kah kita meyakini cuaca dan iklim merupakan penghalang sebaran virus corona? Oleh karena itu, pembuat kebijakan dan kita sebagai masyarakat harus lebih berhati-hati ketika menafsirkan hasil dari studi yang melihat dampak cuaca atau faktor lainnya terhadap penyebaran Covid-19," ujarnya.

Sebelumnya, BMKG memprediksi awal Musim Hujan akan berlangsung pada bulan Oktober 2020. Sedangkan puncaknya akan terjadi pada bulan Januari 2021. 

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]