Ahli Ingatkan Soal Uji Vaksin Virus Corona, Potensi Bahaya

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 08:35 WIB
Ahli mengingatkan soal potensi bahaya yang mengintai uji vaksin Covid-19 jika virus corona terbukti menimbulkan fenomena ADE. Ilustrasi virus corona (iStockphoto/Ovidiu Dugulan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Peneliti berpesan agar para pelaku uji klinis vaksin Covid-19 memerhatikan potensi bahaya jika virus corona SARS-CoV-2 terbukti menimbulkan fenomena ADE (Antibody-dependent enhancement).

Hal ini diungkap Guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Chaerul Anwar Nidom terkait temuan susunan asam amino virus corona SARS-CoV-2 yang berpotensi menimbulkan fenomena ADE.

"Ini yang perlu kami sampaikan kepada pihak-pihak yang sedang upayakan vaksin, tolong diamati hal-hal yang terkait perubahan-perubahan virus ini," tuturnya dalam wawancara dengan CNNIndonesia TV, Rabu (16/9).


ADE adalah fenomena virus berikatan dengan antibodi untuk menginfeksi sel inang. Potensi terjadinya fenomena ADE ini bisa dilihat dari pola tertentu dari susunan DNA/RNA virus.

Sebelumnya, virus corona menginfeksi sel lewat reseptor ACE2 yang ada di paru-paru. Tapi dengan fenomena ADE, maka sel akan masuk ke sel lewat makrofag.

"Sehingga, virus berkembang di sel mikrofag (sel darah putih) bukan di sel saluran pernafasan lagi," tuturnya saat dihubungi CNNIndonesia.com lewat pesan teks, Rabu (16/9).

Akibatnya, infeksi virus corona bisa terjadi tanpa menunjukkan gejala klinis (orang tanpa gejala/OTG) seperti batuk, demam, dan sebagainya. Akibat lain, infeksi virus corona jadi berlangsung kronis dan lama serta melemahkan sistem imun.  

Susunan asam amino RNA virus corona yang berpotensi menimbulkan fenomena ADENidom menjelaskan susunan asam amino RNA virus corona yang ada dalam kotak merah, berpotensi menimbulkan fenomena ADE (dok. jurnal Investigasi Mutasi Virus Corona)

Lebih lanjut, Nidom menyebut potensi ADE pada virus corona ini masih sebatas bukti empiris dari analisa data virus yang memiliki ADE. "Kemudian kita analogikan jika terjadi pada Covid," jelasnya.

Sehingga, ia mendorong agar dilakukan penelitian preklinis untuk mencegah hal itu terjadi ke manusia. "Jangan sampai kita terjadi seperti itu kita terlambat." 

Kasus vaksin demam berdarah

Chaerul menambahkan ADE menjadi titik kritis dalam disain dan pengembangan vaksin. Studi terdahulu terhadap kandidat vaksin Dengue (DENV) memberikan gambaran bahwa ADE dapat memicu tingkat keparahan penyakit pasca vaksinasi. 

Sebagai contoh seperti terjadi pada penerapan vaksin demam berdarah yang sempat diuji di Filipina pada 2017 lalu. Vaksin itu menurut Nidom sudah melewati uji klinis tahap III dan dikomersialiisasikan. 

Menurut Nidom, saat vaksin itu duji ke anak-anak untuk memicu antibodi, vaksin itu malah menimbulkan patogensitas lebih tinggi ketika pasien terinfeksi virus berikutnya. Akibatnya, uji vaksin demam berdarah dihentikan di Filipina.

Contoh kedua adalah pada uji klinis pada vaksin untuk HIV AIDS di negara di Afrika. Vaksin yang diproduksi oleh sebuah lembaga riset Amerika Serikat itu ternyata malah menimbulkan masalah baru akibat muncul fenomena ADE.

"Maka program vaksinasi HIV distop," tuturnya lagi.

Hingga saat ini, para ahli terus melakukan penelitian terhadap virus corona dan mendapat temuan-temuan baru. Salah satunya terkait dengan potensi virus corona SARS-CoV-2 menimbulkan fenomena ADE seperti diutarakan Nidom.

Selain itu, Chaerul mengatakan keberadaan ADE ini menarik mengingat saat ini berbagai negara di dunia termasuk Indonesia sedang membuat vaksin yang akan menghasilkan antibodi.

Tak hanya itu, Indonesia juga sedang mengembangkan terapi plasma darah atau konvalesen. Terapi plasma darah konvalesen sendiri merupakan metode pengambilan plasma darah (serum) dari pasien positif corona yang sudah sembuh untuk ditransfusi ke pasien positif corona.

(jnp/eks)

[Gambas:Video CNN]