Astronaut Indonesia Ungkap Ujian untuk Pergi ke Luar Angkasa

CNN Indonesia | Minggu, 20/09/2020 05:45 WIB
Pratiwi Pudjilestari Sudarmono selamanya terukir sebagai astronaut perempuan pertama di Indonesia, meski nasib membuatnya batal ke luar angkasa pada 1986. Pratiwi Sudarmono (kanan) Astronaut Perempuan Pertama Indonesia. (dok. NASA/SpaceFacts.de)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tidak sembarang orang bisa melewati seleksi untuk bisa pergi ke antariksa, namun Pratiwi Sudarmono berhasil membuktikan bisa terpilih sebagai astronaut perempuan pertama dari Indonesia.

Tiga dekade lalu, Pratiwi yang lahir di Bandung pada 1952 itu terpilih menjadi astronaut untuk ke luar angkasa. Namun, langkah Pratiwi menembus atmosfer bumi itu batal karena program pesawat ulang alik Amerika Serikat (AS) dihentikan sementara pascameledaknya Challenger pada 1986.

Walau gagal berangkat, Pratiwi sendiri membuktikan berhasil lolos segala tahapan untuk jadi astronout.


"Kesehatan fisik menjadi salah satu pertimbangan utama tentunya," kata Pratiwi di webinar bersama Komunitas Tintin Indonesia, Sabtu (19/9) seperti dilansir Antara.

Namun bukan cuma itu yang jadi penilaian. Ketahanan mental juga tak kalah penting karena astronaut harus menjalani hari-hari ekstrem, jauh berbeda dari keseharian di bumi.

"Tapi ada ujian yang lebih ketat, seperti psikotest," ujarnya.

Ada karakter yang harus dimiliki seseorang untuk lulus seleksi astronaut di mana di antaranya adalah orang yang bisa menghadapi tekanan, tidak mudah marah, juga bisa mengambil keputusan tepat di tengah kondisi darurat.

"Hal semacam itu yang beberapa kali diujikan," kata sosok yang kini dikenal pula sebagai Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Selain diawasi dan diuji di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Pratiwi juga diuji di lembaga antariksa Amerika Serikat (NASA).

Kala itu, Pratiwi merupakan bagian dari misi wahana antariksa STS-61-H, yang bertujuan membawa satelit komersial termasuk satelit Palapa B3, itu pun mempelajari struktur kendaraan luar angkasa yang akan dipakai.

"Yang berat itu mempelajari sistem kerja pesawat ulang-alik. Bagi saya, seorang dokter dan ahli laboratorium, cukup sulit."

Pratiwi sendiri bisa terpilih mengikuti latihan bersama NASA, lalu terpilih menjadi astronaut tak lepas dari program Kemenristek kala itu.

Lini masa perjalanan manusia ke bulan dalam infografis

Ketika Indonesia dapat kesempatan mengirim wakil untuk naik pesawat ulang-alik bersamaan dengan peluncuran satelit Palapa, Kementerian Riset dan Teknologi bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mendiskusikan siapa orang yang tepat.

"Banyak calon para tentara, sebagian besar diantaranya para pilot pesawat pemburu, ada yang dari penerbangan Angkatan Laut. Banyak juga remaja, mahasiswa sampai ibu rumah tangga," ujar ilmuwan kelahiran Bandung, 31 Juli 1952.

Sementara ilmuwan, kala itu dilirik, karena izin melakukan riset ilmiah dalam misi luar angkasa tersebut. Jadi, bukan cuma kemampuan fisik dan mental yang dipertimbangkan, melainkan juga kemampuan mengenai riset ilmiah. Penelitian itu bernama Indonesian Space Experiment.

"Maka dibuka kesempatan untuk ilmuwan lebih dulu, untuk mengajukan penelitian luar angkasa," beber Pratiwi yang menjadi Spesialis Muatan di misi wahana antariksa STS-61-H.

Universitas Indonesia meminta Pratiwi turut serta memasukkan proposal penelitian. Penelitian yang diusulkan Pratiwi adalah riset untuk melihat ketahanan fisik manusia di luar angkasa. Riset itu dilatarbelakangi cita-cita NASA menempatkan koloni manusia di luar angkasa.

Butuh riset percobaan demi memahami bagaimana cara makhluk bisa hidup di luar angkasa. Ilmuwan ingin memahami apa saja yang dibutuhkan kalau kelak ada kebutuhan untuk memindahkan sebagian makhluk bumi ke luar angkasa.

Salah satu nilai tambah yang membuat proposal Pratiwi disetujui adalah penelitiannya tidak membutuhkan alat besar yang bisa memakan ruangan di pesawat ulang-alik.

Setelah penelitiannya disetujui, Pratiwi pun didorong untuk mendaftarkan diri. Tanpa dorongan itu, mungkin Pratiwi tidak jadi astronaut perempuan pertama dari Tanah Air.

"(Ke luar angkasa) sesuatu yang sangat menantang waktu itu. Namun demikian, atas dorongan dari banyak pihak dan izin keluarga, saya ikut daftar."

Meski misi ke luar angkasa batal, Pratiwi tetap menjalani penelitian di Amerika Serikat. Sejak Challenger meledak, fokus Pratiwi bergeser untuk penelitian yang dilakukan di kompleks NASA, Amerika Serikat.

"Semua penelitian di luar angkasa ada ground reserach untuk jadi perbandingan. Ada yang dilanjutkan," ujarnya.

Infografis Astronot Scott Kelly

Mengapa Pratiwi tidak ikut berpartisipasi di misi luar angkasa berikutnya?

Pratiwi menuturkan musibah meledaknya pesawat ulang-alik Challenger pada 28 Januari 1986 yang terjadi 73 detik setelah diluncurkan, ketika pesawat berada di ketinggian 15 kilometer.

"Pada waktu meledak, kebetulan yang ada di dalam misi itu adalah Teacher in Space, ibu guru yang berangkat. Jadi pada waktu itu Christa McAuliffe namanya, ibu guru itu, adalah sipil, bukan anggota dari angkatan bersenjata Amerika Serikat manapun," kata Pratiwi.

Christa McAuliffe adalah warga sipil yang terpilih dalam seleksi NASA Teacher in Space Project dan harusnya menjadi guru pertama yang pergi ke luar angkasa.

Kecelakaan itu, ujar Pratiwi, membuat banyak orang di Amerika Serikat berpendapat bahwa lembaga antariksa National Aeronautics and Space Administration (NASA) belum siap memberangkatkan masyarakat sipil ke luar angkasa.

Pratiwi Sudarmono, Calon Astronaut Wanita Pertama IndonesiaPratiwi Sudarmono. (NASA/SpaceFacts.de)

Guru Besar Ilmu Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu mengungkapkan, sebetulnya dalam beberapa latihan misi antariksa berawak, telah terjadi banyak kecelakaan yang menelan korban, namun belum tentu disampaikan kepada publik.

"Statusnya adalah NASA itu di-sue sama kaum masyarakat sipil dan itu belum selesai sampai beberapa tahun berikutnya," ujar peraih gelar doktor bidang biologi molekuler dari Universitas Osaka.

Ketika kesempatan kembali muncul, Indonesia sudah mengundurkan diri karena mengalami krisis moneter. Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia B.J. Habibie kala itu menyampaikan tidak ada lagi dana untuk membiayai program latihan astronaut Indonesia.

"Karena latihan itu enggak gratis ya, latihan itu harus dibayar oleh negara."

Dan, nama Pratiwi Pudjilestari Sudarmono selamanya terukir sebagai astronaut perempuan pertama di Indonesia, meski nasib membuatnya batal berangkat ke luar angkasa pada 1986.

(Antara/kid)

[Gambas:Video CNN]