Pedagang Bersiap Gunting Harga Mobil Bekas

CNN Indonesia | Rabu, 30/09/2020 11:39 WIB
Pedagang mobil bekas disebut akan menyesuaikan harga jual mengikuti penurunan harga mobil baru jika usulan pajak 0 persen disetujui. Ilustrasi mobil bekas. (Istockphoto/Sakkawokkie)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mobil bekas bisa dijual lebih murah dari harga pasaran jika pemerintah setuju menerapkan pajak nol persen bagi mobil baru. Pedagang mobil bekas mengatakan mau tidak mau ikut menurunkan harga menyesuaikan mobil baru.

"Ya pasti turun akan menyesuaikan juga," kata Senior Manager bursa mobil bekas WTC Mangga Dua Herjanto Kosasih melalui sambungan telepon, Selasa (29/9).

Usulan pembebasan beberapa beban pajak mobil baru menjadi nol persen diprediksi membuat harga susut hingga 20 - 40 persen.


Sejumlah komponen pajak yang diminta dihilangkan sementara, seperti diungkapkan Dirjen ILMATE Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier, yakni yakni PPn yang sebesar 10 persen, PPnBM dengan variasi beban antara 10 persen hingga 125 persen, dan pajak daerah misalnya seperti PKB sekitar 2 persen dan BBN yang tergantung daerah, antara 10- 12,5 persen.

Meski harga terancam turun, Herjanto mengatakan itu tak menjadi soal sebab banderol mobil bekas dikatakan fleksibel dengan keadaan. Meski begitu Herjanto enggan mengungkap seberapa besar persentase penurunannya.

"Turun ada, tapi ya tidak bisa juga disebutin ya. Nanti kalau disebutkan malah jadi patokan kan tidak enak," ucap dia.

Efek buat Mobil Bekas

Menurut Herjanto efek isu pajak 0 persen untuk mobil baru telah terjadi pada sektor mobil bekas, tetapi dia menyebut baru sampai ke harga belanja pedagang.

"Jadi kalau sekarang itu kata pedagang belanjanya yang murah, tapi jualnya sih sama saja harganya," ucapnya.

Komponen pajak yang diminta relaksasi sebelumnya telah diusulkan Kementerian Perindustrian ke Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Sejauh ini belum ada kepastian atas usulan itu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya sudah merespons usulan Kemenperin, dia bilang akan mengkajinya tanpa memberikan janji.

"Kami masih kaji dan sepertinya insentif untuk program pemulihan ekonomi sudah banyak," ujarnya.

Menurut Sri Mulyani juga pemberian stimulus tambahan untuk sektor industri atau masyarakat dimungkinkan. Tapi, tentunya harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan terkini.

"Kami akan melihat lagi apa yang dibutuhkan untuk menstimulus ekonomi lagi dengan tetap kita jaga Konsistensi kebijakannya," kata Sri Mulyani.

(r/fea)

[Gambas:Video CNN]