BNPB Ungkap Ciri Gempa yang Sebabkan Tsunami di Indonesia

CNN Indonesia | Kamis, 01/10/2020 09:30 WIB
BNPB membeberkan beberapa karakter gempa yang bisa menyebabkan tsunami di Indonesia. Ilustrasi tsunami. (Istockphoto/johnnorth)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberikan ciri-ciri gempa yang bisa menyebabkan tsunami. Ciri utama gempa yang bisa disusul tsunami adalah gempa dengan durasi selama 20 detik terlepas dari kekuatan magnitudo gempa.

Pelaksana Tugas Direktur Pemetaan dan Evaluasi Risiko Bencana BNPB, Abdul Muhari mengatakan banyak gempa tak berkekuatan besar yang bisa sebabkan tsunami. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk memerhatikan durasi gempa, bukan kekuatan gempa.

"Jadi kita bisa sampaikan ke masyarakat sebagai kesiapsiagaan, ketika masyarakat merasakan guncangan gempa apakah itu terasa biasa atau keras,  apabila terjadi gempa terjadi selama 20 detik, itulah saat tepat untuk evakuasi," ujar Abdul dalam diskusi virtual 'Risiko Tsunami di Selatan Jawa', Rabu (30/9).


Abdul mengatakan contoh utama kekuatan gempa tak berkaitan dengan tsunami terjadi di Mentawai pada 2007 dan 2010. Ia bercerita pada 2007, Mentawai diguncang dengan gempa bermagnitudo 8,6.

Hal ini sontak menimbulkan rasa panik bagi masyarakat apabila terjadi tsunami setelah gempa. Namun ternyata, gempa tersebut hanya disusul dengan tsunami setinggi 5 hingga 15 cm.

"Mentawai pada 2007 itu ada gempa besar M 8,6. Guncangan sangat kuat tapi tsunaminya sangat kecil. Masyarakat Mentawai sempat kaget dan ketakutan luar biasa karena gempa luar biasa, tapi tsunaminya hanya setinggi 5 sampai 15 cm," kata Abdul.

Abdul mengatakan Mentawai kembali diguncang gempa pada 2010. Saat itu guncangan gempa tak terlalu terasa oleh masyarakat. Oleh karena itu, masyarakat tak khawatir terhadap tsunami akibat gempa kecil ini karena mengacu pada gempa besar pada 2007 yang tak disusul oleh tsunami.

Faktanya, gempa ini tak terasa karena terjadi tepat di daerah lempeng. Alhasil delapan menit setelah gempa, Mentawai dihantam tsunami setinggi 12 hingga 15 meter.

"Jadi ketika mereka punya pengalaman di 2007, bahwa gempa kuat tak muncul tsunami. Mereka pikir gempa lemah tak sebabkan tsunami, tapi tiba-tiba delapan menit kemudian tsunami 12-15 meter menghantam," kata Abdul.

Di sisi lain, Abdul mengutip ungkapan dari Jepang bahwa masing-masing gempa memiliki keunikan tersendiri. 

Sebelumnya, pada 2018 lalu, gempa berkekuatan 7,4 skala richter di Sulawesi Tengah akibat pergerakan mendatar sesar Palu-Koro mengakibatkan tsunami setinggi 3 meter. 

Peneliti geofisika kelautan LIPI Nugroho Dwi Hananto mengatakan peneliti tidak menyangka gempa berkekuatan 7,4 tersebut bisa mengakibatkan tsunami.

Nugroho mengatakan gempa tersebut seharusnya tidak menyebabkan tsunami. Belum lagi mengingat pergerakan mendatar tidak secara efektif bisa mengakibatkan tsunami. 

Nugroho memperkirakan tsunami ini terjadi karena dua faktor.  Pertama bentuk geomorfologi teluk Palu hingga Donggala yang  mengamplifikasi kekuatan tsunami. Bentuk geomorfologi dasar laut di teluk ini sangat curam, melebihi 60 derajat sehingga bisa juga mengakibatkan longsor sehingga terjadi tsunami.

"Dari 800 meter ke 20 meter sangat terjal, bisa dibayangkan massa air dari tempat yang dalam menjadi dangkal dipindahkan dengan volume  yang sama maka kecepatan sangat tinggi dan gelombang sangat tinggi," tutur Nugroho.

Kedua Nugroho mengatakan bentuk teluk Palu terlihat seperti kanal tertutup sehingga bisa mengamplifikasi kekuatan massa air laut  yang datang.

'Para ahli setuju bentuk teluk Palu seperti kanal tertutup. Kalau dilihat di peta, teluk Palu menjorok ke dalam. Seperti saluran air selokan yang ujungnya satu terbuka dan satu tertutup. Kalau digelontorkan air dari ujung yang terbuka, di ujung yang tertutupnya pasti muncrat,"kata Nugroho. 

(jnp/DAL)

[Gambas:Video CNN]