Penyebab Konspirasi QAnon Cepat Merajalela di Medsos

CNN Indonesia | Sabtu, 10/10/2020 08:23 WIB
Penderitaan karena pandemi dan jumlah waktu berselancar di internet yang meningkat membuat masyarakat tertarik mengamati teori konspirasi. Ilustrasi Facebook. (AFP/DENIS CHARLET)
Jakarta, CNN Indonesia --

Facebook telah mengklasifikasikan gerakan teori konspirasi QAnon sebagai sesuatu yang berbahaya. Perusahaan itu juga mulai menghapus grup, akun, serta halaman terkait QAnon pada Facebook dan Instagram.

Langkah tersebut dilakukan setelah aktivitas kelompok QAnon meningkat. Alih-alih mengandalkan laporan pengguna, Facebook sekarang akan menindak QAnon secara tersendiri.

Melansir AFP, gerakan QAnon berpusat pada keyakinan yang tidak berdasar bahwa dunia dijalankan oleh komplotan rahasia pedofil pemuja Setan. Bahkan, kelompok itu menuduh virus corona adalah konspirasi dari kelompok rahasia itu.


Peneliti disinformasi di lembaga pemikir ISD, Mackenzie Hart, mengatakan pihaknya mendeteksi lonjakan tajam konten dan penelusuran terkait QAnon pada Maret ketika sejumlah negara mulai memberlakukan penguncian wilayah dan tindakan menjaga jarak sosial.

Kecemasan, frustrasi, dan penderitaan ekonomi yang disebabkan pandemi, ditambah peningkatan jumlah waktu yang dihabiskan orang menggunakan internet menjadi campuran eksplosif yang menarik orang ke QAnon.

"QAnon menyalahkan peristiwa ini pada elite global. Di saat bersamaan juga meningkatkan ketidakpercayaan pada media arus utama, pemerintah, dan organisasi seperti WHO," kata Hart.

Peningkatan pengikut QAnon juga didukung pesan antivaksin dan kampanye sayap kanan.

Peneliti disinformasi Middlebury College's Center, Alex Newhouse, menjelaskan alasan QAnon sangat mudah menyebar di media sosial. Analisis teknologi telah menunjukkan fitur inti dari sebagian besar platform media sosial utama, yakni algoritma rekomendasi sebagai pendorong utama pertumbuhan QAnon.

Pengguna yang melihat, mengunggah, atau mencari konten tertentu dipandu ke apa yang algoritma platform tentukan sebagai konten lain yang mungkin mereka minati. Para analis mengatakan hal itu kemudian membantu menghubungkan teori konspirasi seperti tentang vaksin dan 5G dengan QAnon.

"Mereka sangat pandai memanfaatkan teknik amplifikasi algoritmik untuk mendorong keterlibatan ke video atau pos mereka. QAnon tidak akan ada dalam volume besar tanpa algoritma rekomendasi pada platform teknologi besar," kata Newhouse.

Pengikut QAnon, dalam upaya untuk mengalahkan komplotan pedofil Setan, juga telah membajak hashtag seperti #SaveTheChildren, sebuah tindakan yang menurut para ahli telah merusak upaya serius untuk menghentikan perdagangan manusia.

Melansir The Star, para peneliti telah menemukan influencer Instagram, termasuk mereka yang tidak secara langsung mereferensikan gerakan tersebut, telah menggunakan visual yang penuh warna dan mengundang untuk mempromosikan teori konspirasi QAnon.

Dokumen internal Facebook menyampaikan bahwa grup serta halaman QAnon memiliki jutaan pengikut dan anggota. Sehingga, penyaringan dan pemblokiran beberapa konten terkait QAnon belum begitu signifikan.

Para ahli justru menilai bahwa memotong atau mengurangi akses ke pengikut baru yang potensial adalah salah satu dari beberapa metode efektif.

(pjs)

[Gambas:Video CNN]