Survei: Warga Pilih Vaksin Merah Putih daripada Sinovac China

CNN Indonesia | Kamis, 15/10/2020 13:00 WIB
Menurut hasil survei Lapor Covid-19, warga lebih memilih vaksin merah putih dibanding vaksin impor China di bawah kerjasama Sinovac-Bio Farma. Ilustrasi vaksin merah putih Covid-19. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lapor Covid-19 melakukan survei Pemahaman dan Kepercayaan Masyarakat terhadap Vaksin dan Obat Virus Corona (Covid-19) di Indonesia. Berdasarkan hasil survei tersebut, sebagian masyarakat masih ragu menerima vaksin dan obat Covid-19 yang dibuat oleh perusahaan Sinovac China dan perusahaan BUMN Bio Farma.

Dari survei tersebut, warga lebih memilih vaksin merah putih Covid-19 yang dikembangkan secara mandiri oleh Indonesia di bawah kerjasama Eijkman dan pemerintah.

Adapun rincian survei tersebut, sebanyak 27 persen responden ragu-ragu menggunakan vaksin covid-19 Sinovac, 32 persen tidak setuju, 10 persen sangat tidak setuju. Sebanyak 31 persen responden setuju menggunakan vaksin Sinovac.


Untuk vaksin merah putih, 37 persen responden mengaku ragu-ragu, 3 persen tidak setuju, 16 persen sangat tidak setuju. Namun ada 44 persen responden yang setuju menggunakan vaksin merah putih buatan Eijkman.

"Jadi masih lebih banyak responden yang mau memakai vaksin merah putih buatan Eijkman," ucap Dicky melalui diskusi virtual Lapor Covid-19, Selasa (13/10).

Menanggapi hal itu, Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Herawati Sudoyo mengatakan bahwa peserta survei memang sudah paham dan lebih mengedepankan nasionalisme soal vaksin Covid-19.

Herawati mengatakan pandemi Covid-19 ini juga menyadarkan warga akan pentingnya kedaulatan nasional.

"Ada unsur nasionalisme di situ. dari awal untuk apa, itu untuk kedaultan nasional," kata Herawati.

Padahal Herawati mengaku bahwa pembuatan vaksin merah putih lebih low profile. Pasalanya tahapan pembuatan vaksin masih dalam penelitian.

"Sehingga untuk menerangkan ke masyarakat, ini loh ada vaksin, belum ada karena masih penelitian. Dalam arti kandidatnya saja mungkin baru ada akhir bulan ini," kata Hewawati.

Herawati kemudian mengatakan bahwa vaksin China yang dikerjakan Sinovac-Biofarma mendapatkan perhatian karena penelitian sudah dilakukan dan barangnya sudah ada.

"(Vaksin China) sudah uji klinis. Sehingga perhatian dari media semua itu berbiacara mengenai kasus ini, mengenai vaksin sinovac," kata Herawati.

Di sisi lain, Herawati menekankan adu vaksin China dan merah putih tidak perlu terlalu diperdebatkan. Eijkman, kata dia, lebih mengedepankan sosialisasi 3T (testing, treatment, tracing), dan 3M (memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak).

"Jadi kita tidak mau semuanya tergantung pada vaksin. Jangan sampai kita overshadow. tujuan kita sbenernya apa, kan menurnkan kasus, nah itu tidak bisa dengan satu masalah saja. jadi kalau vaksin ada everything all right itu enggak," kata Herawati.

Namun, Herawati juga mengatakan jangan sampai gerakan menolak atau ragu terhadap vaksin impor maupun lokal Covid-19 di Indonesia semakin tinggi.

"Adanya vaksin, tidak bisa ditolak. Adanya informasi pemberian vaksin sangat berbahaya yang berujung tidak mau divaksin harus diluruskan, itu PR (pekerjaan rumah) kita," katanya.

Sebelumnya, Survei lapor Covid-19 ini dilakukan secara daring menggunakan platform Facebook, Whatsapp, dan media sosial lainnya. Jumlah partisipan mencapai 2.933 dengan nilai valid partisipan 2.013 orang. Partisipan berusia lebih dari 18 tahun.

Sebanyak 74,77 persen partisipan merupakan orang yang bekerja atau berhubungan dengan sektor kesehatan, sebagian besarnya merupakan sarjana (45,38 persen).
Sebaran responden terbanyak berasal dari DKI Jakarta (22 persen) dan Jawa Barat (21 persen).

Jumlah responden terkecil berasal dari Kalimantan Utara sebanyak 4 orang, dan Sulawesi Utara dan Sulawesi Barat, masing-masing 7 orang.

Kebanyakan partisipan mendapatkan informasi tentang Covid-19 dari pakar kesehatan (1.089 orang), pemerintah (647 orang), lainnya (285 orang), keluarga (44 orang), sahabat (25 orang), artis/selebgram (17 orang), dan tokoh agama (2 orang).

Mengenai obat Covid-19 buatan Unair-BIN-TNI AD, sebanyak 54,3 persen sudah mengetahui obat tersebut. Namun sebanyak 61 persen responden masih ragu bahwa obat tersebut dapat menyembuhkan Covid-19, dan 41 persennya setuju bahwa obat Covid-19 Unair belum tentu efektif, 36 persennya masih ragu-ragu.

Kemudian pengetahuan masyarakat untuk vaksin Covid-19 Sinovac, sebanyak 67,61 persen telah mengetahui vaksin tersebut. Untuk vaksinMerah Putih Eijkman 52,20 persen sudah mengetahui.

Namun 41 persennya masih ragu-ragu bahwa vaksin dapat melindungi diri dari Covid-19, 39 persen setuju bahwa vaksin dapat melindungi, dan 14 persennya sangat setuju.

55 persen responden ragu-ragu bahwa vaksin memiliki efek samping, 31 persen setuju vaksin memiliki efek samping, dan 6 persen sangat setuju vaksin memiliki efek samping.

(dal/DAL)

[Gambas:Video CNN]