Mengenal Dampak La Nina, Penyebab Cuaca Ekstrem di Indonesia

CNN Indonesia | Senin, 19/10/2020 11:03 WIB
BMKG memperingatkan curah hujan tinggi akibat fenomena La Nina di Indonesia pada Desember 2020 hingga Februari 2021. Ilustrasi ancaman La Nina di Indonesia. (Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat La Nina bisa mengakibatkan cuaca ekstrem berupa hujan deras yang disertai angin kencang dan petir dalam periode sepekan ke depan.

Sebelumnta, BMKG memperingatkan curah hujan tinggi akibat fenomena La Nina pada Desember 2020 hingga Februari 2021. Fenomena La Nina ini juga terjadi bersamaan dengan gelombang MJO (Madden Julian Oscillation).

Sehingga BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan kondisi cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.


BMKG mengatakan La Nina ini terjadi di periode awal musim hujan Indonesia. Alhasil, La Nina bisa meningkatkan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah.

La Nina sendiri dalam bahasa Spanyol berarti gadis kecil.  La Nina mewakili periode suhu permukaan laut di bawah rata-rata di Pasifik Khatulistiwa timur-tengah. 

Dampak La Nina terhadap curah hujan di Indonesia tidak seragam, baik secara spasial maupun temporal, bergantung pada musim atau bulan, wilayah, dan kekuatan La Nina sendiri.

"Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya. Namun demikian dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dalam keterangan resmi, Senin (19/10).

Ketika La Nina terjadi, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

BMKG menyatakan fenomena La Nina di Samudera Pasifik berintensitas sedang (moderate). Pemantauan BMKG terhadap indikator laut dan atmosfer menunjukkan suhu permukaan laut mendingin -0.5 celsius hingga -1.5 celsius selama 7 dasarian terakhir (70 hari).

Pendinginan diikuti oleh dominasi aliran zonal angin timuran yang merepresentasi penguatan angin pasat.

Selain pengaruh sirkulasi angin monsun dan anomali iklim di Samudera Pasifik, penguatan curah hujan di Indonesia juga turut dipengaruhi oleh penjalaran gelombang atmosfer ekuator dari barat ke timur berupa  MJO (Madden Julian Oscillation ) dan Kelvin, atau dari timur ke barat berupa gelombang Rossby. 

Hasil analisis kondisi dinamika atmosfer teranyar menunjukkan keberadaan aktivitas MJO di atas wilayah Indonesia. Aktivitas MJO membentuk kluster atau kumpulan awan berpotensi hujan.

Aktivitas La Nina dan MJO pada saat yang bersamaan ini dapat berkontribusi signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia. MJO di Indonesia terjadi akibat interaksi antara laut dan atmosfer di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang mengapit Indonesia.

MJO berdampak pada peningkatan curah hujan disertai angin kencang dan petir. Herizal menjelaskan  fenomena MJO sendiri merupakan fenomena yang serupa dengan fenomena gelombang ekuator, namun dengan pergerakan ke arah Timur pada kisaran periode selama 22 hari di Indonesia.

"BMKG dan pusat layanan iklim lainnya seperti NOAA (Amerika Serikat), BoM (Australia), JMA (Jepang) memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas La Nina Moderate pada akhir tahun 2020, diperkirakan akan mulai meluruh pada Januari-Februari dan berakhir di sekitar Maret-April 2021," tutur Herizal.

Berdasarkan kondisi tersebut di atas, BMKG memprakirakan  akan terjadi peningkatan curah hujan dengan 'Intensitas lebat' yang kemungkinan disertai kilat atau petir dan angin kencang.

Untuk periode 18 - 24 Oktober 2020 dampak MJO berpotensi terjadi di wilayah berikut:
- Aceh
- Sumatera Utara
- Sumatera Barat
- Riau
- Jambi
- Bengkulu
- Sumatera Selatan
- Kep. Bangka Belitung
- Lampung
- Banten
- DKI Jakarta
- Jawa Barat
- Jawa Tengah
- DI Yogyakarta
- Jawa Timur
- Bali
- Nusa Tenggara Barat
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Utara
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Selatan
- Sulawesi Utara
- Sulawesi Barat
- Sulawesi Tengah
- Sulawesi Selatan
- Maluku Utara
- Papua Barat
- Papua

(jnp/DAL)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK