Identitas Bus Listrik Rp2 Miliar Buatan INKA

CNN Indonesia | Rabu, 21/10/2020 14:20 WIB
Karoseri bus listrik bernama E-Inobus ini dibuat oleh Piala Mas, sedangkan motor listrik dan baterai didatangkan dari perusahaan Taiwan, Tron E. Bus Listrik E-Inobus buatan INKA tengah menjalani uji jalan. (INKA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Industri Kereta Api (INKA) menghabiskan dana sekitar Rp2 miliar untuk membuat satu unit bus listrik yang saat ini masih dalam tahap pengujian internal mengenai daya tahan.

Direktur Utama INKA Budi Noviantoro menjelaskan bus bernama E-Inobus itu merupakan hasil kerjasama dengan perusahaan asing dan lokal.

Perusahaan asing yang digandeng INKA yakni asal Taiwan, Tron E yang menjadi pemasok sistem kelistrikan mulai baterai hingga motor listrik. Sedangkan untuk karoseri INKA bekerjasama dengan perusahaan asal Malang, Jawa Timur, yaitu Piala Mas.


"Jadi seperti kelistrikan kita ambil dari sana dan rakitnya di sini. Tapi kalau di total habis berapa, ya sekitar Rp2 miliar," kata Budi saat dihubungi, Rabu (21/10).

Budi tak menyebutkan detail mengenai spesifikasi mobil ini. Namun ia sedikit menjabarkan mengenai sejumlah kelebihan jika E-Inobus.

Jarak tempuh dalam satu kali pengisian baterai selama tiga sampai empat jam disebut 200 km. Kemudian rata-rata kebisingan 71 db lebih kecil dibanding bus konvensional yang dikatakan pada umumnya 85 db, serta kecepatan maksimum 90 km per jam.

Menurut dia juga penggunaan bus listrik ini lebih efisien 58 persen dibanding bus bermesin diesel. Dari hasil uji dalam dan luar kota yang melibatkan jalan tol, pemakaian energi listrik bus sepanjang 8 m ini sebesar 1,4 km per kWh dalam 122 km.

Rata-rata pemakaian bus diesel disebut 3 km per liter. Jika harga solar Rp9.300 per liter, maka biaya operasional per kilometer bus diesel yakni 0,3 x Rp9300 per liter menjadi Rp2.790 per km

"Nah untuk biaya operasional bus listrik per kilometer sama dengan 0,71 x Rp1650 per kWh sama dengan Rp1171 per km," katanya.

Untuk pemeliharaan juga dikatakan lebih terjangkau dibanding bus konvensional sebesar 49 persen.

"Perbandingan pemeliharaan bus diesel dan bus listrik pernah disampaikan pada Maintenance Forum tahun 2018 di Serbia, dimana kedua bus dijalankan sejauh 250 km per hari. Hasilnya bus diesel Rp6,7 juta dan bus listrik 3,4 juta," kata Budi.

(ryh/fea)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK