Ilmuwan Amerika Serikat Lega Joe Biden Kalahkan Donald Trump

CNN Indonesia | Senin, 09/11/2020 09:39 WIB
Ilmuwan Amerika Serikat mengaku dikekang selama rezim Donald Trump yang menentang sains, pandemi Covid-19 dan perubahan iklim. Ilmuwan senang Joe Biden bisa menang pilpres AS 2020 kalahkan Trump. (AP/Julio Cortez)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ilmuwan Amerika Serikat (AS) mengaku lega ketika Joe Biden memenangkan pemilihan presiden (pilpres) AS 2020. Mereka berharap Biden bisa menghapus kebijakan anti-sains yang dibuat oleh Donald Trump selama menjabat.

Upaya Biden untuk memulihkan sektor sains di AS nampaknya akan menemui kendala. Sebab, setengah warga AS juga memilih Trump dalam pemilu tahun ini.

Melansir Nature, Biden telah dinyatakan menang setelah memperoleh dukungan terbanyak di Pennsylvania dan memperoleh cukup suara wilayah lain.


Setelah Biden menjabat pada 20 Januari 2021, dia akan memiliki kesempatan untuk membalikkan banyak kebijakan yang diperkenalkan oleh pemerintahan Trump yang dinilai merusak sains dan kesehatan masyarakat.

Kebijakan Trump itu termasuk tindakan terhadap perubahan iklim, imigrasi, dan pandemi Covid-19, yang telah menginfeksi lebih dari seperempat juta jiwa warga AS sebelum Trump meninggalkan jabatannya pada Januari.

"Mimpi buruk nasional kami yang panjang sudah berakhir," kata Alta Charo, ahli bioetika di Fakultas Hukum Universitas Wisconsin.

Peneliti berharap banyak kerusakan bisa diperbaiki oleh Biden. Dengan tidak adanya Trump fisikawan dan spesialis proliferasi nuklir yang berbasis di Islamabad Pervez Hoodbhoy akan membuat AS akan lebih memiliki kerja sama internasional, kepatuhan yang lebih besar terhadap hukum dan perjanjian, lebih banyak kesopanan dalam politik di seluruh dunia.

"Lebih sedikit 'berita palsu', lebih banyak senyuman, dan sedikit kemarahan," ujar Hoodbhoy.

Melansir Ex Bulletin, salah satu prioritas pertama Biden adalah menerapkan rencana tanggap pandemi yang lebih agresif. Pada 6 November, Amerika Serikat mencatat lebih dari 130.000 infeksi virus corona baru dalam satu hari, jumlah tertinggi yang dilaporkan di seluruh dunia sejak dimulainya epidemi.

Trump telah berusaha untuk meremehkan Covid-19 sambil menentang upaya negara bagian dan lokal untuk menahan virus corona karena terlalu mahal.

Sebaliknya, tim Biden telah berjanji untuk meningkatkan program pengujian dan penelusuran Covid-19, bekerja dengan otoritas negara bagian dan lokal untuk menerapkan kebijakan masker nasional dan memperkuat fasilitas kesehatan publik.

Biden juga berjanji akan mendengarkan ilmu pengetahuan. Pemerintahan Trump telah berulang kali mengesampingkan ilmuwan pemerintah dari badan kesehatan masyarakat seperti Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit dan Administrasi Makanan dan Obat selama pandemi.

Pemerintahan Biden juga akan membuka kembali jalur komunikasi dengan negara lain dan organisasi internasional dalam memerangi virus corona. Trump menarik Amerika Serikat keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia awal tahun ini, mengkritik badan internasional tersebut atas dukungannya untuk China, tempat epidemi dimulai.

Prioritas utama lainnya untuk Biden adalah membalikkan banyak kebijakan iklim, lingkungan, dan kesehatan masyarakat yang diberlakukan di bawah Trump.

Daftar teratas adalah perjanjian iklim Paris 2015. AS secara resmi menarik diri dari perjanjian pada 4 November, tetapi Biden mengatakan dia akan bergabung dengan pakta tersebut setelah menjabat pada Januari.

Terpilihnya Biden sangat penting bagi para ilmuwan di Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), yang telah menderita akibat upaya Trump untuk membatalkan regulasi, memperkuat pengaruh industri, dan merusak bagaimana sains digunakan untuk mengembangkan aturan guna mengurangi polusi dan melindungi kesehatan masyarakat.

Pemerintahan Trump berusaha untuk mengubah DNA organisasi, kata Dan Costa, seorang ahli toksikologi yang memimpin program penelitian udara, iklim dan energi badan tersebut hingga Januari 2018 dan merupakan salah satu dari banyak ilmuwan senior EPA yang akhirnya memilih untuk pergi selama masa jabatan Trump.

(jps/DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK