Sebelum Lengser, Trump Kembali Blacklist Produsen Chip China

CNN Indonesia | Rabu, 02/12/2020 01:03 WIB
Salah satu perusahaan chip China kembali dimasukkan Donald Trump dalam daftar hitam atau blacklist investasi AS. Donald Trump kembali masukkan perusahaan Chip China ke daftar hitam. (AP/Evan Vucci)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump siap untuk menambahkan produsen chip kenamaan asal China, Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) dan produsen minyak serta gas lepas pantai China National Offshore Oil Corp (CNOOC) ke dalam daftar hitam atau blacklist investasi AS.

Kebijakan itu dikeluarkan Trump jelang habisnya masa jabatan sebagai presiden AS. Joe Biden dan Kamala Harris akan dilantik menggantikan Trump dan Mike Pence untuk bertugas di Gedung Putih pada 20 Januari 2021.

Trump menilai kedua perusahaan tersebut diduga memiliki andil atau terafiliasi dengan militer China. Kebijakan berpotensi meningkatkan ketegangan AS dengan Beijing beberapa pekan sebelum presiden terpilih AS Joe Biden resmi menjabat.


Departemen Pertahanan AS (DOD) bahkan disebut tengah bersiap menunjuk empat perusahaan China lagi yang diduga terafiliasi atau dikendalikan oleh militer China.

China Construction Technology Co Ltd dan China International Engineering Consulting Corp juga dikabarkan akan di-blacklist oleh pemerintahan Trump. Kendati demikian, keputusan itu masih belum jelas kapan akan diterbitkan melalui federal register AS.

Melansir US News, SMIC mengatakan, pihaknya bakal terus terlibat secara konstruktif dan terbuka dengan pemerintah AS untuk mengatasi masalah tersebut.

Mereka juga memastikan bahwa produk dan layanannya hanya untuk penggunaan sipil dan komersial. Kabar itu juga berdampak pada saham SMIC yang sebesar anjlok 2,7 persen pada hari Senin (30/11) kemarin.

"Perusahaan tidak memiliki hubungan dengan militer China dan tidak memproduksi untuk pengguna akhir atau penggunaan akhir militer manapun," tegas perwakilan SMIC.

Sedangkan Unit CNOOC yang terdaftar CNOOC Ltd, yang sahamnya turun hampir 14 persen pada hari Senin kemarin itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya telah memeriksa dengan perusahaan induknya.

Mereka pun menegaskan tidak ada pemberitahuan resmi dari otoritas AS yang relevan, dan yang telah mereka terima.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mengatakan bahwa Beijing berharap Amerika Serikat tidak akan membangun penghalang dan hambatan untuk kerja sama dan mendiskriminasi perusahaan China.

Sementara itu, DOD dan Kedutaan Besar China di Washington belum memberikan komentar.

Dalam polemik ini, SMIC sudah lama ditargetkan pemerintah AS. Pada September lalu, Departemen Perdagangan AS memberitahu beberapa perusahaan, mereka perlu mendapatkan lisensi sebelum memasok barang dan jasa ke SMIC.

Perintah itu disampaikan setelah pemerintah AS menyimpulkan adanya risiko bahwa peralatan yang dipasok ke SMIC dapat digunakan untuk tujuan militer.

Lebih lanjut, dilansir dari TechCrunch, perintah Trump dan kemungkinan penambahan perusahaan China ke daftar hitam pertahanan, sejalan dengan sikap keras pemerintahan Trump terhadap perusahaan teknologi China.

Seperti sebelumnya termasuk Huawei, ZTE dan ByteDance atau TikTok hingga WeChat, yang diklaim sebagai ancaman keamanan nasional AS.

(DAL)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK