Ahli Respons Potensi Covid-19 Menular Lewat Air Mata

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Senin, 21/12/2020 10:12 WIB
Ahli Biologi dan Molekuler Ines Atmosukarto menyatakan alasan penularan Covid-19 terjadi lewat air mata sangat kecil. Ilustrasi Covid-19 menular dari air mata. (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ahli Biologi dan Molekuler Ines Atmosukarto menyatakan penularan utama Covid-19 terjadi lewat aerosol yang keluar lewat mulut dan penularan Covid-19 lewat air mata sangat kecil.

Kendati demikian Ines menyikapi masyarakat harus tetap waspada dan tetap memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan (3M) guna mencegah penularan Covid-19.

"Memang kita perlu waspada, tapi yang lebih penting adalah kita menekankan dan menyadari bahwa transmisi dari virus itu yang utama dan sudah terbukti adalah aerosol," ujar Ines kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/12).


Ines membenarkan virus corona SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 bukan hanya ditemukan di saluran pernapasan. Dia mengatakan virus itu juga ditemukan saat peneliti mengambil sampel PCR dari feses, air kencing, dan air mata.

Meski demikian, CEO perusahaan start-up di bidang bioteknologi bernama Lipotek ini menegaskan sampel itu belum tentu infeksius. Sebab, dia menyebut PCR mendeteksi materi genetik virus.

"Belum tentu virus itu masih hidup dan menginfeksi. Metode PCR itu memang sangat sensitif sehingga gampang menemukan sesuatu yang positif," ujarnya.

"Tetapi belum tentu sampel itu kalau misalnya digunakan untuk menginfeksi sel yang lain akan bisa. Kan bisa saja itu mungkin potongan dari materi genetik si virus," ujar Ines.

Terkait dengan kondisi itu, Ines mengingatkan semua pihak untuk terus menggunakan masker dan tidak menyentuh hidung dengan tangan agar tidak terinfeksi virus melalui aerosol. Dia menilai hal itu lebih penting ketimbang meributkan potensi Covid-19 menular lewat air mata.

Sebab, dia berpendapat potensi seseorang tertular atau menularkan Covid-19 lewat aerosol lebih besar dari air mata yang keluar dari seseorang yang menangis.

"Sekarang kita berpikir, lebih bahaya mana orang menangis terus pegang air mata, terus memegang sesuatu yang mungkin kita pegang atau kita berada di tengah kerumunan di mana orang bernapas tanpa masker? jelas aerosol yang paling penting dan utama secara ilmiah," ujarnya.

Ines menambahkan banyak hal yang mempengaruhi virus corona bertahan. Misalnya, dia mengatakan virus bisa bertahan lama jika berada di dalam ruangan yang tidak memiliki ventilasi. Selain itu, virus bisa mati pada suhu tertentu.

Lebih dari itu, dia kembali mengingatkan semua pihak untuk menerapkan protokol kesehatan meski ada program vaksinasi Covid-19. Dia berkata penularan Covid-19 akan terus terjadi selama mayoritas atau 70 persen dalam sebuah populasi belum memiliki imunitas terhadap virus SARS-CoV-2.

"Jangan dianggap vaksinasi sudah dimulai kita bisa seenaknya saja kembali seperti masa sebelumnya. Masih berbulan bahkan setahun ke depan kita harus menjaga apa yang kita lakukan saat ini," ujar Ines.

Sebelumnya, Guru Besar Ilmu Kesehatan FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Suhardjo menyatakan Covid-19 tidak hanya menular melalui percikan air liur atau droplet yang keluar dari hidung atau mulut.

Dia mengatakan Covid-19 bisa menular melalui air mata karena ada sedikit kasus mata merah atau konjungtivis pada individu yang terinfeksi Covid-19.

"Air mata bisa jadi media penularan, tapi kemungkinannya kecil karena di situ tidak ada reseptor yang cocok untuk virus Covid-19," ujar Suhardjo dalam laman resmi UGM, diakses Kamis (17/12).

(jps/mik)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK