CEO Telegram Buka Suara soal Aturan Baru WhatsApp-Facebook

CNN Indonesia | Sabtu, 09/01/2021 15:05 WIB
CEO Telegram Pavel Durov ikut berkomentar soal pembaruan kebijakan privasi dan persyaratan WhatsApp yang memaksa pengguna untuk berbagi data dengan Facebook. CEO Telegram Pavel Durov ikut berkomentar soal pembaruan kebijakan privasi dan persyaratan WhatsApp yang memaksa pengguna untuk berbagi data dengan Facebook. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pendiri Telegram Pavel Durov ikut buka suara perihal kabar pembaruan kebijakan privasi dan persyaratan layanan WhatsApp yang memaksa pengguna untuk setuju membagi data mereka dengan Facebook.

Durov mengatakan Facebook memiliki tim khusus untuk mencari tahu alasan mengapa aplikasi Telegram menjadi sangat populer.

"Saya dengar Facebook memiliki departemen yang dikhususkan untuk mencari tahu mengapa Telegram begitu populer. Bayangkan, lusinan karyawan bekerja penuh waktu hanya untuk itu saja," ujarnya.


"Saya dengan senang hati memberikan rahasia kami secara gratis: hormati pengguna Anda," tambahnya.

Lebih lanjut, Durov menuturkan, jutaan orang marah dengan perubahan terbaru dalam persyaratan layanan WhatsApp yang mengharuskan mereka berbagi semua data pribadi mereka ke mesin iklan Facebook.

Akibatnya, tak mengherankan apabila dalam beberapa tahun terakhir pengguna WhatsApp beralih semakin cepat ke Telegram.

"Dengan sekitar 500 juta pengguna dan terus berkembang, Telegram telah menjadi masalah utama bagi perusahaan Facebook," ucap Durov.

Durov mengklaim, karena Facebook tidak dapat bersaing dengan Telegram terkait kualitas dan privasi, maka WhatsApp nampaknya beralih ke pemasaran terselubung yakni menggunakan bot berbayar dalam artikel WhatsApp di Wikipedia.

TO GO WITH AFP STORY BY PAULINE TALAGRANDThis picture taken on September 15, 2016 in Paris shows the Telegram messenger application on a smartphone.Smartphone app Telegram, favoured by the Islamic State group thanks to the encrypted messaging it offers, is proving a headache for French anti-terror investigators. The free-to-download instant messenger, which allows people to exchange messages, photos and videos in groups of up to 5,000 people, has attracted some 100 million users since its launch in 2013. / AFP PHOTO / CHRISTOPHE ARCHAMBAULTIlustrasi. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pengguna WhatsApp yang beralih ke Telegram. (AFP PHOTO / CHRISTOPHE ARCHAMBAULT)

"Editor Wikipedia baru-baru ini mengungkap beberapa bot berbayar telah menambahkan informasi bias ke dalam artikel WhatsApp Wikipedia," kata Durov seperti dikutip dari Tech Weez.

Telegram menemukan bahwa bot itu menyebarkan mitos tentang mereka yang menurut Durov tidaklah benar. Berikut tiga mitos yang tersebar, lengkap dengan penjelasan dari Durov.

Mitos 1: 'Kode Telegram bukanlah open-source' 

Pada kenyataannya semua aplikasi klien Telegram telah menjadi open source sejak 2013. Enkripsi dan API Telegram didokumentasikan sepenuhnya dan telah ditinjau oleh pakar keamanan ribuan kali. Selain itu, Telegram adalah satu-satunya aplikasi perpesanan di dunia yang memiliki build yang dapat diverifikasi baik untuk iOS dan Android.

Sementara WhatsApp, tambah Durov, sengaja mengaburkan kode mereka sehingga tidak mungkin untuk memverifikasi enskripsi dan privasi mereka.

Mitos 2: 'Telegram adalah bahasa Rusia' 

"Faktanya, Telegram tidak memiliki server atau kantor di Rusia dan diblokir di sana dari 2018 hingga 2020," lanjutnya.

Ia mengungkapkan bahwa Telegram juga masih diblokir di beberapa negara otoriter seperti Iran, sementara WhatsApp dan aplikasi lain 'yang seharusnya aman' tidak pernah mengalami masalah di tempat-tempat ini.

Mitos 3: 'Telegram tidak dienkripsi'

Setiap obrolan di Telegram telah dienkripsi sejak diluncurkan. "Kami memiliki obrolan rahasia yang end-to-end dan cloud chats yang juga menawarkan penyimpanan awan yang aman dan terdistribusi secara waktu nyata," imbuhnya.

WhatsApp, di sisi lain, tidak memiliki enkripsi selama beberapa tahun, dan kemudian mengadopsi protokol enkripsi yang didanai oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Selain itu, Durov juga menyinggung Facebook yang telah menggelontorkan hampir US$10 miliar hanya untuk melakukan pemasaran pada 2019.

"Tidak seperti Facebook, Telegram tidak mengeluarkan uang, apalagi miliaran dolar, untuk pemasaran. Kami percaya bahwa orang-orang cukup pintar untuk memilih yang terbaik bagi mereka. Dan, dilihat dari setengah miliar orang yang menggunakan Telegram, keyakinan ini benar," pungkas Durov.

(ans/asr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK