Drama Tarik Ulur Facebook Monetisasi WhatsApp Jadi Cuan

M. Ikhsan, CNN Indonesia | Minggu, 17/01/2021 11:22 WIB
WhatsApp resmi dijual ke Facebook dengan harga sekitar US$19 miliar atau sekitar Rp251,4 triliun pada 2014. WhatsApp diharapkan menghasilkan cuan bagi. Logo WhatsApp. (Foto: CNN Indonesia/ Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perjalanan Facebook untuk monetisasi WhatsApp masih tersendat. Salah satu faktornya adalah dualisme yang terjadi di struktur perusahaan WhatsApp.

Pada 2014 WhatsApp resmi dijual ke Facebook dengan harga sekitar US$19 miliar atau sekitar Rp251,4 triliun.

Setelah WhatsApp dijual kepada Facebook, perlahan dua pendiri dari perusahaan perpesanan instan tersebut, Brian Acton dan Jan Koum perlahan meninggalkan WhatsApp.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook berniat menjadikan WhatsApp sebagai lumbung pendapatan baru melalui iklan.

Layanan perpesanan WhatsApp berencana untuk mengenakan biaya di sejumlah layanan bagi pengguna WhatsApp Business pasca meluncurkan fitur belanja dan memunculkan iklan di tahun ini.

Perjalanan drama tarik ulur monetisasi WhatsApp oleh Facebook cukup panjang, berikut penjelasannya:

Brian Acton hengkang

Salah satu pendiri WhatsApp, Brian Acton meninggalkan WhatsApp pada September 2017 silam. Kabar ini Ia sampaikan langsung melalui akun Facebooknya.

Acton mengaku, Ia akan mendirikan usaha non profit selepas keluar dari perusahaan besutannya tersebut.

Belakangan Ia mengungkap bahwa kepergian dari WhatsApp karena berselisih paham dengan CEO Facebook, Mark Zuckerberg.

Pada awal kesempatan bisnis, Ia menjelaskan jika Facebook menargetkan agar WhatsApp bisa mencetak pendapatan US$10 miliar atau sekitar Rp140 triliun dalam lima tahun.

Untuk mencapai target tersebut, WhatsApp diminta memunculkan iklan dan membuat versi khusus pebisnis. Namun ia mengkritik model bisnis yang justru mengarahkan perusahaan untuk memprioritaskan profit ketimbang privasi penggunanya.

Pendiri WhatsApp lainnya turut hengkang

Jan Koum, salah satu pendiri WhatsApp mengundurkan diri pada 2018 lalu dari kursi CEO, karena diduga berselisih dengan perusahaan induk, Facebook.

Penyebab utama perselisihan Koum dengan Facebook adalah strategi perusahaan induk yang hendak memakai data pribadi dan melemahkan enkripsi WhatsApp.

Namun manajemen WhatsApp dinilai cukup resisten terhadap wacana iklan di aplikasinya. Sejak 2012, mereka sudah menyatakan tak ingin menjadi perusahaan teknologi demikian yang kerjanya mengutak-atik kolam data.

Brian Acton kembali singgung Facebook

Pendiri WhatsApp Brian Acton kembal menyerukan untuk hapus akun Facebook saat menjadi pembicara di almamaternya. Acton tak sungkan mengungkap alasan ia mundur, lantaran selisih paham dengan CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Sejak awal kesepakatan bisnis, Ia menjelaskan jika Facebook menargetkan agar WhatsApp untuk mencetak pundi uang US$10 miliar atau sekitar Rp140 triliun dalam lima tahun.

Untuk mencapai target tersebut, WhatsApp diminta memunculkan iklan dan membuat versi khusus pebisnis.

Whatsapp akan ada iklan

Wacana monetisasi akhirnya disampaikan kepada publik. WhatsApp mengumumkan akan menampilkan iklan di aplikasinya, pada Facebook Marketing Summit (FMC) 2019 di Belanda pada pertengahan 2019 lalu.

Iklan tersebut akan tampil di status ketika pengguna melihat serangkaian Status teman-temannya. Pengguna bisa melihat iklan sepenuhnya dengan menyapu (swipe up) iklan ke atas, mirip dengan Stories Instagram.

WhatsApp menyebut kalau pengguna bisa melihat nama pengiklan beserta iklan lain yang terkait. Namun, pengguna tak bisa melihat kontak dan foto profil dari pengiklan tersebut. Hal ini sudah dikonfirmasi oleh WhatsApp.

Titik terang monetisasi WhatsApp makin terlihat usai salah orang memperlihatkan tampilannya kepada publik. Namun sedari diluncurkanya kepada publik, hingga kini belum ada kepastian kapan monetisasi dimulai.

Monetisasi WhatsApp batal

Facebook dikabarkan membatalkan menempel iklan pada platform WhatsApp pada Januari tahun lalu, dan pihaknya baru saja membubarkan tim yang tengah mengembangkan layanan iklan tersebut.

Facebook masih berencana untuk memasukkan iklan pada fitur Status -WhatsApp. Namun hingga saat ini, layanan pesan instan tersebut masih bebas iklan.

Dari kegagalannya, Facebook fokus untuk membuat fitur WhatsApp bisnis. Dibatalkannya rencana membuat WhatsApp jadi beriklan akhirnya menggiring Facebook untuk fokus pada strategi lain. Salah satunya adalah, "fokus pada fitur WhatsApp yang membuat akun bisnis bisa berkomunikasi dengan pelanggan mereka dan mengatur kontak-kontak ini.

WhatsApp umumkan tarik biaya untuk pengguna akun bisnis

WhatsApp dikabarkan akan mengenakan biaya mulai dari US$0,5 sen hingga US$9 sen atau sekitar Rp6 perak hingga Rp125 perak untuk setiap pesan yang dikirim oleh pengguna WhatsApp Business pada September lalu.

Biaya itu untuk terus menyediakan dan memperluas layanan perpesanan teks dan panggilan suara, serta video yang terenkripsi secara end-to-end.

WhatsApp Business diluncurkan pada 2018 dan Facebook mengklaim bahwa 175 juta orang mengirim pesan ke akun WhatsApp Business setiap hari. WhatsApp for Business juga akan menambahkan fitur baru yang memungkinkan pembeli untuk melihat produk di dalam chat dalam bentuk katalog produk.

Kebijakan monetisasi merupakan upaya pertama Facebook untuk menghasilkan pendapatan langsung penggunanya dari layanan WhatsApp.

Itulah drama tarik ulur yang ditempuh Facebook untuk monetisasi aplikasi obrolan singkat miliknya, WhatsApp. Pihaknya mengumumkan pembaruan kebijakan privasi baru sebagai persyaratan pelayanan. Perusahaan "memaksa" pengguna untuk setuju membagi data mereka dengan Facebook jika ingin tetap menggunakan layanannya.

Pemberitahuan muncul saat pengguna membuka Aplikasi. Kebijakan untuk berbagi data dengan Facebook akan mulai dilakukan pada 8 Februari 2021. Jika tak setuju dengan pembaruan, pengguna bisa menghapus akun.

(mik/mik)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK